A.D. Kareem


JEJAK JEJAK WAKTU DAN KEHAMPAAN

Ada jejak-jejak waktu yang kita tinggalkan.
Pada pasir yang tersibak/ pada ingatan yang tersimpan/
Pada tanah yang terkuak/ pada pendaman sebuah senyuman/
Dan cerita tentang kehampaan hilang tak berbekas ditelan rindu yang pungkas

Biarpun semua ‘tlah pula diketahui, kisah memang bukan milik akhir
Hanya sebuah permulaan belaka/ tunduk dan layu/ dan sesekali tersingkir
Di malam gelap, di cuaca mendung, di kelana tak bertepi, dan mimpi hadir
Esoknya, bersama mentari, bab baru terbuka dan permulaan itu kembali dimulai

Cinta tidak dimulai pada sebuah awal
Ia hanyalah genangan yang tersimpan pada sebuah cikal
disembunyikan oleh waktu dan pertemuan yang enggan bergerak meski sejengkal
lantas, kemudian, awan tersibak pada terang, dan kau hanya tunduk pada agungnya

berhentilah, jangan maju lagi, tetapi kita tetap berjalan,
buta arah, tanpa keterangan, tiada penyuluh, namun kau tak henti melangkah
karena, begitu sebab deritanya, kau hanya mengikuti sebuah panggilan
dan kau terjerembab kadang, di lain waktu kau senang dan berkehidupan megah

tetapi waktu dan jejaknya, bukanlah tujuan kita
kita hanya para pengembara di pembuangan,
menapaki riak-riak yang kadang dangkal lain kali dalam
terhantuk pada dinding dan terjungkal pada lubang dalam

kita bangkit lagi, dan berpesta, bertapa, berdiam, bersuara, bercinta, menengadah
pada langit, berdoa, bersua dan berpisah.

Kita hanya para pengelana, tanpa bekal atau berkelimpahan
Atau pemusik yang bernyanyi untuk angin atau istana-istana megah
Atau penyair yang kesepian, meratap, dan menangis,
Dan ketika Isolde berhenti di hadapannya,
Ia lahir kembali sebagai Tristan dan mengayunkan pedang, menghalau kesepian dan
dukanya.

Tetapi, waktu hanya begitu-begitu saja.
Layarnya terkembang dari dulu hingga kini, menembus lubang-lubang hitam,
Mengitari galaksi-galaksi yang jauh, singgah pada bintang-bintang terang,
Berdiam agak lama pada nebula-nebula kesedihan.
Namun, manusia hanya bisa begitu juga. Jejaknya melintasi milyaran abad sejarah
semesta. Tetapi, hanya kepada cinta ia ingin kembali.

Waktu tak berarti. Ruang hanyalah tempat teriakan bergema dan memantulkan kembali
narasinya kepada sejarah di masa depan.

Kau dan aku, mengayuh perahu kita, dengan sesekali layar terkembang,
Menatap dan meminta petunjuk pada bintang-bintang, patuh kepada langit
Dan meminum embun, dan berselimutkan kehangatan tubuh kita saja.
Kita tak tahu ke mana akhirnya,
Apakah mati dalam kelaparan, hilang di belantara laut yang kejam
Atau tersungkur ke dalam palung samudera yang hitam

Kita hanya ingin meninggalkan jejak pada waktu, atau hanya sekadar kehampaan belaka.
Tetapi, cinta tak membutuhkan penghargaan dan pengutukan.
Ia hanya cinta, hanya sebuah cinta,
Dan kepadanyalah kita pergi dan kepadanyalah kita kan kembali.
Lain waktu, ketika semuanya usai, penyesalan bukanlah sebuah pilihan
Ia hanya sebuah cerita saja.

Tetapi mencintaimu, adalah pelayaran demi sebuah keabadian,
Seabadi Gilgamesh dan kisahnya,
Seabadi Iliad dan kemurungannya
Seabadi Lebanon dan teriknya.

Hanya dengan cinta, hanya kepada cinta, hanya untuk cinta.
Setelah itu pejamkanlah matamu, kekasih.
Aku hanya ingin bersamamu. Mati dan hidup, sudah tak penting lagi.

9 Mei 2018
A.D. Kareem (Febrian) lahir di Pekanbaru, 11 Februari. Ingin menjadi penulis, dan untuk bisa menulis, agar yang tertulis bisa dibaca, dan kembali dituliskan. Ia dapat dihubungi via Instagram (IG): d.mahaksara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Theme Mode