BELAJAR DI MASA KANAK

BELAJAR DI MASA KANAK

Di masa kanak, belajar dekat dengan kelelahan, kekesalan, antusiasme, sekaligus kegembiraan. Dalam banyak peristiwa belajar, termasuk dalam bacaan kanak dari masa ke masa, sekolah memang paling sering disebut sebagai tempat belajar yang sah. Melampaui dan bahkan mendahului keluarga sebagai rumah belajar pertama dan utama. Belajar itu wajib, maka sekolah menjadi satu babak penting untuk mencipta aksi belajar yang massal, bersama, dan seragam.

Konsep belajar yang diterima selama ini adalah belajar yang harus melibatkan suatu institusi dan keprofesian yang cenderung eksklusif. Keluar dari rumah menuju sekolah, mencari guru, berada di ruang kelas, mendengarkan penjelasan guru, khidmat pada nilai-nilai sosial-pendidikan, dan bila perlu mencapai tataran murid sempurna-teladan, itulah belajar. Wajib belajar selama bertahun-tahun, pernyataan ini lebih terdengar agung dari belajar sepanjang hayat atau belajar sampai mati. Pamrih belajar pun terbuktikan lewat ijazah, laporan, peringkat, atau coretan angka yang sering fiktif.

Buku bacaan adalah jalan mempropagandakan belajar. Model, cara, ruang, dan tujuan belajar dari masa ke masa mengabarkan tautan psikologis, kultural, dan sosial kemasyarakatan yang dialami anak. Orang dewasa yang mengarang cerita anak, menerjemahkan imajinasi agar bisa diterima oleh pembaca kanak lewat pengalaman personal atau anjuran pihak pemangku pendidikan (Sugihastuti, 2013). Kita dalam masa kanak yang singkat, harus sering mencontoh, menduplikatkan, atau mengikuti cara belajar yang ditawarkan dan bahkan dipaksakan oleh orang dewasa.

Di buku Hari-hari Bersama Teladan (Balai Pustaka, 1993) kita bertemu anak lelaki kelas 5 SD bernama Caha garapan A. Malik Thachir. Buku ini pernah masuk dalam sepuluh karangan terbaik dalam lomba mengarang guru SD tingkat nasional 1982/1983 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Caha nyaris menjadi murid sempurna dengan mampu menyandang predikat “murid teladan”. Melalui sampul buku, tersampaikan bahwa pembaca akan memasuki dunia belajar anak yang terjadwal dan teratur. Anak laki-laki tersenyum optimis sedang duduk di kursi-meja belajar. Buku-buku di meja tertata rapi dan ada wadah pensil kecil. Si anak juga sedang memegang pensil yang diarahkan pada lembaran buku. Imajinasi pun bergerak bahwa si anak berada di kamar yang nyaman dan bersih, kamar yang akan mengantarkan pada kecerahan masa depan.

Pembaca memang hampir tidak mendapati kesaksian biografis keluarga dalam membentuk keteladanan Caha. Ada kesaksian dari Londe, anak SMP sekaligus tetangga yang menjadi teman Caha yang mengerjakan soal dan meminjam buku. “Caha adalah adikku. Walau ia bukan adik kandungku, tapi sejak aku masih duduk di SD, kami sama-sama belajar. Kebetulan kami bertetangga. Ia anak yang rajin bertanya bila mengalami kesulitan. Tak segan-segan meminjam buku kepadaku untuk menambah pengetahuannya.”

Pun, ada Ompu Tua, kakek Londe yang menjadi orang tua bijaksana, pemberi nasihat, dan berkontribusi meletakkan dasar moralitas kepada anak-anak. “Kalau manusia hanya mementingkan otaknya saja ia menjadi manusia pemikir tulen. Tetapi akan terisolasi dari pergaulan masyarakat. Kalau manusia hanya mementingkan perasaannya saja jadilah ia sebagai manusia yang tak bisa mengurus badan dan terlalu perasa. Juga takut bergaul. Dan ini yang paling berbahaya kalau manusia sudah jadi hamba oleh perut saja. Ia akan menjadi manusia pembabi-buta. Kekayaan yang ia kejar, tamak, dan sombong selalu menyertainya. Oleh karena itu, ketiga alat tadi harus dapat dipergunakan dengan seimbang, otak untuk berpikir, hati untuk menentukan sikap, perut jangan terlalu bebas.”

Caha hampir tidak digambarkan mengalami tekanan jahat yang berpengaruh pada guncangan psikologi, intelektual, dan spiritual anak. Seperti yang pernah dikatakan S. Bradjanagara di buku Dasar-Dasar Pendidikan Baru (1952), “kehidupan disekolah merugikan pertumbuhan djasmani anak-anak, terutama bagi anak-anak jang baru masuk sekolah. Sebabnja ialah, bahwa mereka kehilangan kemerdekaan bergerak, dan harus selalu duduk dan diam. Mukanja suram, beratja merosot. Ada djuga jang lalu tidak dapat tidur. Pekerdjaan, jang harus diselesaikan dirumah merugikan kesehatan murid. Tabiatnja berubah: mendjadi mudah marah, mudah menangis dan marah-marah; ada jang mendjadi lemah, dan tidak peduli. Ini semua berarti, bahwa kesehatan anak-anak harus dipelihara baik-baik.”

Caha seperti telah terbiasa ada untuk mencintai sekolah dengan tulus dan bersemangat. Ia menikmati setiap aktivitas belajar. Apalagi, guru telah mengenal Caha sebagai murid yang rajin, pandai, suka membaca, dan pandai mengarang. Wawasan tentang literasi luas dan ini sempat memantik kekaguman guru untuk anak seusia Caha. Dari Ali Baba sampai Si Kancil, dari Hatta sampai Gajah Mada; biografi, pengetahuan umum, dongeng, dan cerita rakyat menjadi referensi bacaan di masa kecil. Guru pun bersemangat untuk menjadikan Caha sebagai murid percontohan yang patut diteladani intelektualitasnya. Caha telah melampaui proses mengeja, didikte, atau menghafal, sebagai kebiasaan pokok belajar di sekolah. Sekalipun, Caha tidak tampak gelisah atau merasa terperosok dalam semesta membaca sekaligus belum mencapai puncak idealisme atau sampai pada penciptaan pemikiran.

Dapat dipastikan bahwa Caha dibentuk oleh institusi pendidikan resmi bernama sekolah. Sekalipun Caha pernah merasa kesal kepada teman-teman, Caha si penyuka buku bukan sosok individualis-egoistik. Caha mengaku, “Aku mengaku menganggap sekolah sebagai rumah yang utama di samping keluargaku sendiri. Aku dan teman-teman bagai saudara kandung yang berada dalam keluarga besar, yang mana guru adalah orang tua kami. Di situ pula kami bermain dengan buku-buku dan bermain sambil bekerja. Bagaimana aku takkan betah berada di sekolah, orang tua kami di sekolah senantiasa membimbing dan memompakan kami dengan ilmu-ilmu yang berguna. Bukankah kami adalah generasi penerus? Bukankan kami akan dipersiapkan untuk tampil ke depan membangun bangsa ini?” Caha berhasil meresapi kewajiban belajar sebagai tanggung jawab kepada bangsa dan negara.

Hal yang pasti, buku bacaan ini juga menjadi propaganda Pancasila. Mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila disampaikan oleh guru dan mesti diamalkan dengan heroik. Pancasila harus diresapi dalam hati, dipikirkan, dan akhirnya terjelma dalam tindakan. “Kita harus percaya bahwa Tuhan itu ada,” ucap Pak Guru Imbi untuk menegaskan sila pertama. “Tuhan yang menciptakan langit dan bumi serta isinya karenanya amalan yang pertama adalah Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sudah saatnya bagi anak-anak untuk mulai menjalankan ibadah sesuai dengan agamamu, tetapi ingat, jangan sekali-kali menghina agama orang lain. Untuk itu kita hendaknya saling menghormati dan bahkan bekerja sama dengan kerukunan hidup.”

Pengamalan ini seolah menyempurnakan misi Orde Baru membangun kepatuhan, nasionalisme, dan disiplin tidak hanya dalam kelas yang memajang burung Garuda Pancasila, tetapi juga buku-buku. Tambahan buku di luar pelajaran berguna bagi perkembangan moral. Saya Sasaki Shiraishi (2009) menegaskan bahwa buku bacaan adalah sarana penyebaran keluargaisme Orde Baru. Kebanyakan para tokoh kanak dalam buku melakoni tiga pelajaran ”berat” sekaligus, tentang keluarga, sekolah, dan negara.

Fasilitas Pemerintah

Belajar di luar konsepsi ruang kelas, umur, sekolah, dan guru yang secara administratif lulus dari institusi keguruan, dialami oleh Guritno dalam Bunga-bunga Hari Esok (Balai Pustaka,1996) garapan Sasmito yang mengalami cetak keempat sejak 1983. Buku berhasil menggugat makna ruang kelas dan usia belajar. Gurit dan Pucung adalah dua bersaudara yatim piatu. Pucung masih duduk di bangku SD, dan Gurit yang berumur 16 tahun sejak kecil bergulat dengan kemiskinan, dipaksa putus sekolah demi menjadi penggembala agar bisa membiayai sekolah Pucung. Gurit tidak mengalami cemooh sosial karena tidak bersekolah. Justru masyarakat memberikan apresiasi, penghormatan, dan dukungan agar Gurit tidak bersedih. Penduduk desa adalah pengganti keluarga yang memberikan empati sekaligus perhatian.

Gurit memiliki impian bisa bersekolah agar mampu membaca dan menulis sebagai bekal untuk bekerja. Sayangnya, dipastikan bahwa tidak ada SD yang bisa menerima Gurit sebagai murid. Ini bukan persoalan ketidakmampuan Gurit menjadi murid, tetapi masalah umur yang tidak bersesuaian dengan tata aturan administratif sekolah. Meski Gurit masih di bawah umur dewasa, 17 tahun, ia sudah terlalu tua untuk menjadi pelajar SD.

Pemerintah pun datang sebagai penyelamat dengan program pemberantasan buta huruf lewat program KBPD (Kelompok Belajar Pendidikan Dasar). Desa adalah wilayah paling dituju pemerintah untuk pemerataan aksara. Tidak seperti di perkotaan saat pendidikan jadi penentu status sosial, desa tidak melakukan penghakiman sosial pada orang yang putus sekolah, apalagi karena kemiskinan. Gurit mendapati penjelasan, “Mula pertama, jika kau menjadi siswa KBPD, kau akan diajari cara menulis dan membaca. Kemudian jika kau sungguh-sungguh belajar dan dapat menyelesaikan buku paket A1 sampai A5, kau akan dites dan kalau dianggap bisa dan dinyatakan lulus, kau akan mendapat STSB, artinya Surat Tanda Serta Belajar. Kemudian setelah berturut-turut tiga buah STSB kau dapatkan, serta dinyatakan lulus KBPD, kau dinyatakan berhak untuk ikut ujian persamaan. Jelas Gurit?”

KBPD bertempat di balai desa, kebanyakan diikuti oleh kaum tua. Dengan mengambil waktu belajar malam hari, semakin menunjukkan bahwa program diikuti untuk orang-orang yang harus bekerja di siang hari. Penduduk Desa Merbuh harus menyadari kebutaan aksara sebagai keterbelakangan. Mereka diajari oleh para anak muda dari kota yang bergelar mahasiswa. Guru dadakan menjelma alat negara untuk menyampaikan pesan terdidik dengan belajar keras. Meski umur, waktu, dan tempat belajar bergerak jauh dari konsepsi sekolah formal, KBPD jelas menampilkan superioritas fasilitas pemerintah dalam pemerataan pendidikan. Belajar masih jadi sesuatu yang tersistem, perlu pendaftaran dan fasilitas.

Membaca!

Belajar model KBPD dengan penekanan pada membaca memang bukan belajar yang akan melibatkan belajar mendalam untuk pengetahuan, wawasan, atau penciptaan sebuah pemikiran. Makna membaca dan menulis bagi Gurit pada akhirnya bukan langkah capaian menuju dunia keilmuan atau pemikiran yang menunjukkan kekhasan belajar diri. Membaca dan menulis Gurit lebih mengarah pada kesetaraan akademik-administratif dari orang-orang yang secara sah lolos dari institusi pendidikan formal, dibuktikan dengan tanda bukti ijazah atau surat kelulusan.

Puncaknya adalah saat Gurit ditunjuk pak lurah mengikuti lomba cerdas tangkas P4 Sekecamatan Singorojo bersama Bawang dan Slendro. Mereka membuka buku soal-soal SLTP dan SLTA. Memprediksi soal-soal yang akan keluar. Gurit telah beranjak dari anak desa yatim piatu dan buta aksara menjadi anak berprestasi yang patut dibanggakan karena semangat belajar. Sekalipun akedemik Gurit tidak melampaui Kinanthi, Asmaradhana, dan Laras yang berkuliah, Gurit menjadi idola kampung juga karena keterlibatannya dalam rembuk dana bantuan desa. Gurit telah belajar menjadi warga negara yang menyukseskan agenda pembangunanisme. Saat Gurit mampu mandiri dengan hidup sebagai pembuat batu bata, bisa dikatakan bahwa masa belajarnya telah usai. Tamat!

Hal ini menyadarkan kita pada sejarah membaca para tokoh sebagai pokok belajar yang sangat penting. Harus diakui, Kartini belajar dari buku-buku dunia Barat. Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (2003) mengatakan bahwa karya-karya orang Eropa terutama sastra menjadi asupan harian. Belajar Kartini adalah peristiwa membuka majalah-majalah kebudayaan berbahasa Belanda, Elsevier terbitan Nederland. Kartini mengagumi Multatuli. Kartini juga membaca Couperus (Louis Marie Anne). Pramoedya pun menduga bahwa Kartini pernah membaca salah satu karya dari 5 karya Couperus; Eline Vere, Een Haagsche Roman, Nootlot Extaze, Eene Illuzie dan Majesteit termasuk karya Augusta de Wit meski Kartini tidak menyebutkan tulisan-tulisan yang dibaca.

Kartini lebih berhasil melibatkan dirinya dalan belajar personal, bukan belajar komunal dalam institusi yang ramai berjamaah. Dalam keheningan dan kesepian yang sedih, dalam buku-buku yang menyelamatkan diri dari kehampaan pingitan, Kartini lebih berhasil belajar sendiri untuk mengungkapkan gagasan, menghaluskan rasa, memekakan empati, dan menegaskan hal belajar untuk perempuan. Sebelum akhirnya, juga mau tidak mau, Kartini pun harus mendirikan sekolah di pendapa kadipaten anak-anak pribumi sebagai bentuk komunal belajar. Tentu Kartini memiliki keberuntungan dilahirkan sebagai anak bangsawan melek literasi yang memungkinkan diri bertemu dengan banyak bacaan elite. Literasi dari keluarga membentuk identitas belajar yang matang. Kartini mencari buku, bukan guru atau sekolah.

Betapa bahagia Kartini saat menyadari bahwa bacaan anak yang akan mendidik jiwa anak untuk suka belajar sekaligus mencipta kecintaan pada tanah air. Di surat kepada Nyonya Nelly van Kol bertanggal 20 Agustus 1902, Kartini menulis, “Kala seorang inspektur pengajaran pribumi meminta kepada kami menulis cerita-cerita kecil dari kehidupan kanak-kanak pribumi buat bacaan anak-anak pribumi, yang akan dihiasi dan diterbitkan seperti buku-buku bergambar. Tak sedikit pun kami menduga, waktu kami menulis cerita-cerita ini, bahwa kami akan jadi gerakan mulia di Nederland sendiri: memberikan bacaan yang mendidik bagi kanak-kanak…”

Belajar personal dengan membaca juga dialami oleh Subardjo, Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan para tokoh penentang kolonial yang mengalami diskriminasi belajar di ruang kelas formal. Sekolah dengan para guru Belanda dan anak-anak Belanda tidak memungkinkan belajar dengan komunal dan bahagia. Maka, buku adalah yang menerima diri tanpa diskriminasi. Agus Salim sekalipun nekat tidak menyekolahkan anak-anaknya di masa kolonial (Mukayat, 1985). Belajar dimulai dan dilakukan di rumah, salah satunya dengan menuntut istri untuk banyak dan mau membaca apa saja. Buku-buku jadi bekal dalam peristiwa harian belajar keluarga.

Bergerak ke masa Orde Baru, masa kanak hampir diseragamkan dalam belajar dan hampir selalu komunal menyatu di ruang kelas. Sekolah hampir tidak memberi anak-anak ancaman atau keresahan tentang belajar itu sendiri. Takut pada guru sekalipun hanya sebuah kewajaran yang akan lekas diselesaikan dengan bujukan. Metode, alat, kurikulum, dan jadwal, hampir telah ditentukan oleh pihak sekolah. Bahkan, mengerjakan PR sekalipun didorong dalam belajar kelompok. Secara sadar, ada anak tertentu yang malas atau kurang cakap harus didorong untuk mau belajar. Tentu belajar model ini jarang bisa memuat kesadaran diri untuk menciptakan risalah belajar.

Alasan yang mungkin bisa menjawab hal ini adalah ketakutan pada membaca, karena secara sadar membaca membutuhkan kesendirian. Ignas Kleden (1999) mengatakan bahwa buku adalah bagian dari tingkah laku budaya. Ada sikap selektif dalam membaca atau memilih buku yang dikondisikan dengan keprofesian diri, ketersediaan waktu, dan kondisi sekitar. Selain itu, membaca buku membutuhkan kemampuan menyendiri, tidak seperti menonton televisi yang sering dihadapi berjamaah sementara di Indonesia, banyak orang atau komunitas cenderung melakukan sesuatu bersama-sama. Kesendirian itu terlalu meresahkan. Orang tentu lebih memilih berkumpul karena selalu ada kebutuhan berbicara, melempar lelucon, berdiskusi, atau sekadar menggosip.

Di hadapan buku dan membaca, orang tidak siap menghadapi kegelisahannya sendiri. Ini berbeda saat orang-orang pada akhirnya saling dipertemukan dan dipertalikan oleh buku. Mereka menemukan dunia yang tidak selalu sepi, tapi semarak dengan obrolan, kejutan kata, dan cerita. Saling mengejek-menempa untuk saling jadi pembaca-pembelajar. Namun, perkumpulan obrolan buku masih sering kalah dengan komunitas pengajian yang sekalipun didominasi oleh omongan satu orang, tetap ramai pengikut. Hadirin yang sekadar jadi pendengar tidak merasa keberatan karena agenda itu dilakoni bersama. Tentu, mereka tidak perlu melewati satu babak kesendirian menjadi pembaca.

Dalam perjalanan belajar dari kanak hingga SMA, selama 12 tahun sering tidak membawa keresahan atau gugatan. Mengeja, didikte, menghafal, mengerjakan soal, dan mendengarkan penjelasan seperti tidak berubah dalam tiap prosesnya sedangkan membaca, secara reflektif dan mendalam sering tidak dibutuhkan sebagai cara belajar yang penting. Membaca lebih banyak menjadi hiburan, jela, pengisi waktu luang, secara sadar menjadi pelarian dari belajar yang berat. Bahkan dalam hal ujian penghabisan, kita hanya melakukan pengulangan atau penghafalan dari yang telah dipelajari. Dalam hal ini, kegagalan sering tidak menjadi koreksi cara belajar. Guru tetap saja membayar kegagalan murid-murinya dengan mengonsumsi lebih banyak soal lagi, tidak sedang berpikir (lagi) tentang cara belajar.

Dalam pengalaman belajar, kita juga sering dihadapakan pada kondisi mencari sekolah, bukan mencari guru atau buku. Sekolah seolah telah menjadi jaminan sekaligus penentuan segala bentuk kualitas yang dimiliki. Di dalam papan promosi sekolah, yang ditonjolkan bukan dedikasi atau kejeniusan seorang guru dan buku. Laboratorium, program unggulan, piala, penghargaan, atau ekstrakurikuler adalah jaminan belajar.

Bermain untuk Belajar?

Dari beberapa buku kanak lain, kita bisa menemukan dunia kanak yang lebih lekat dengan bermain daripada belajar di sekolah. Selain karena latar cerita bertepatan dengan momentum liburan, gairah hidup di keluarga dan lingkungan sekitar lebih memiliki gairah belajar banyak hal seperti buku Si Samin garapan Mohammad Kasim dan Adi dan Layang-layangnya garapan Darmawan Tjokrokusumo, keduanya hampir tidak terintervensi oleh kehadiran pemerintah sebagai penganjur wajib belajar. Anak-anak lebih berhak memiliki dunia.

Si Samin terbit pertama kali pada 1924 dan kesebelas kali pada 2007 oleh Balai Pustaka. Gaya penceritaan yang berlogat Melayu, memungkinkan anak di abad ke-21 kesulitan membaca meski ejaan telah disempurnakan. Si Samin adalah buku kanak yang biografis memuat masa kanak yang wajar; kenakalan, keisengan, kemalasan, kecerdikan, dan pertengkaran. Di luar institusi formal ini, belajar lebih mengacu pada pencapaian moralitas, solidaritas berteman, etika, dan risalah keluarga. Suatu hari saat di pasar, Samin dan teman-teman mengatur strategi agar uang saku mereka bertambah. Mereka membeli durian untuk dijual lagi agar bisa mendapati untung. Durian 6 sen laku 10 sen. “Sangatlah besar dan heran hati ketiga budak itu, karena dalam sekejap saja beroleh untung 4 sen. Dalam pikiran mereka, yang demikian itu suatu hal yang luar biasa, yang jarang-jarang terjadi.”

Samin dan teman-teman tidak memaksudkan diri untuk belajar berhitung. Mereka melakukannya dengan naluriah. Logika hitungan terjadi bersamaan dengan kejadian. Pembelajaran berhitung berbeda dengan saat Samin resmi menjadi murid sekolah. Samin dengan sadar menggunakan istilah belajar untuk menarasikan saat-saat berada di kelas dan mengimajinasikan pertanyaan guru. Kita simak saat adik Samin, Ramlah, bertanya tentang apa yang dilakukan abangnya di sekolah. Seperti ini,

“Apakah kelja abang di sekolah itu?”
“Belajar,” jawab si Samin.
“Belajal mengapa?”
“Berhitung, bercakap-cakap.”
“Belhitung apa?”
Si Samin pun mencobakan pelajarannya.
“Satu lidi ditambah satu lidi jadi dua lidi. Dua pisang ditambah satu pisang jadi tiga pisang. Satu lupis ditambah dua lupis jadi tiga lupis.”
“Jadi abang makan pisang dan lupis di sekolah? Mengapa abang tidak bawakan aku?”
“Bukan,” kata si Samin, sambil tertawa. “Lupis tidak ada, pisang pun tidak ada, tetapi lidi ada.”

Samin mengalami belajar berhitung di dua tempat yang berbeda. Di pasar, berhitung ‘agak’ tidak dianggap sebagai belajar karena terjadi begitu saja. Berhitung harga dan uang itu adalah hal lumrah dan naluriah saja. Padahal, belajar model ini melampaui konsepsi berhitung. Samin sekaligus mengalami pembelajaran tentang berdagang. Ilmu hitung memiliki konteks sebagai penerapan belajar. Ada durian, penjual, harga, transaksi, dan uang. Di sekolah, berhitung adalah ritus gaib. Sering tidak ada wujud sungguhan dari sesuatu yang dihitung, bahkan dalam banyak kasus, kita sering tidak tahu untuk apa belajar logaritma, aljabar, trigonometri, atau matriks, kecuali untuk keberhasilan mengerjakan soal kelulusan.

Samin memang secara tidak sadar belajar hidup dari kenakalan, keisengan, dan peristiwa harian bersama teman. Orang tua Samin juga tidak membangun resepsi bahwa belajar adalah di sekolah, bertemu guru, dan lulus mendapatkan ijazah. Saat mendapati cerita keberuntungan Samin di pasar, bapak malah menantang Samin untuk jadi pedagang api-api tanpa mempelajari kiat-kiat. Samin diberi modal bapak dan diajak ke pasar untuk menjajakan api-api. Dagangan Samin laku dan terkenal di seantero kampung, karena Samin pandai berpromosi. Bapak perlahan mengetahui minat Samin di perniagaan. Dengan diajari menjadi penjual langsung, Samin diajak belajar menuju masa depannya. Namun, bapak juga memberi penekanan bahwa Saudagar juga perlu belajar, harus bersekolah agar tidak bodoh. Kita simak percakapan Samin, Maun, dan bapak,

“Kau, Min, hendak jadi apa kalau sudah besar?”
“Hendak jadi saudagar. Saudagar pun banyak yang kaya. Baiklah itu, Maun, kau berkebun para, nanti getah paramu berikan padaku, boleh kujual ke Padang,” kata si Samin.
Tersenyumlah bapak si Samin mendengar angan-angan anaknya yang sempurna itu.
“Tetapi kalau orang hendak menjadi saudagar, patutlah tahu menulis, membaca, dan berhitung.”
“Kalau tak tahu, bagaimana?” tanya si Samin.
“Kalau tak tahu, tentu kita diperbodoh-bodoh orang. Dengarlah aku ceritakan, orang yang tidak bersekolah diperbodoh-bodoh orang.”

Konsepsi belajar dalam peristiwa langsung lebih berdaya mendekatkan anak pada kenyataan atau masyarakatnya. Mengingat buku yang terbit pada tahun 1924, Samin justru tidak menampakkan guncangan atau diskriminasi kolonial di tanah Minang. Namun, kita ditegaskan pada cita-cita menjadi saudagar yang begitu populer. Ki Hadjar Dewantara (1962) pernah menganjurkan pelajaran dan praktik bekerja, seperti pertanian, pertukangan, perikanan, perkapalan, dan perdagangan diberikan oleh Sekolah Rakjat. “Maksud daripada peladjaran dan praktek bekerdja jadi tidak lain daripada mendekatkan anak-anak kepada alam pekerdjaan pada pertama kalinja, kedua kalinja membiasakan anak-anak pada pengabdian kepada masjarakatnja, jakni mentjukupkan kebutuhan-kebutuhan masjarakat jang beraneka-warna itu (pertanian, pertukangan, dll. sebagainja).”

Pembelajar Teknologi

Tidak kalah menarik adalah buku Putera Angkasa (Pembimbing Masa, 1974) yang terbit pertama pada tahun 1954 garapan S. Megananda. Putera Angkasa bisa masuk dalam kategori buku Ilmu Pengetahuan Alam atau lebih khusus Fisika. Penulis bisa saja membuat buku lebih praktis dengan langsung bergerak pada buku ala langkah-langkah membuat layangan, tata cara membuat model pesawat, atau tabel-tabel perhitungan. Namun, pengemasan materi dalam bentuk narasi ini memungkinkan anak-anak berimajinasi pada ruang dan waktu. Mereka tidak hanya menghitung massa, menentukan kecepatan angin, menimbang badan pesawat, atau membuat alat peraga lain. Anak-anak diajak membayangkan bentuk pesawat, peristiwa menerbangkan pesawat di lapangan, dan ritus terbang sejak Ikarus sampai pesawat tempur dunia modern.

Buku bercerita keseimbangan peristiwa belajar di luar rumah dan belajar di dalam kelas bersama guru. Tentu teknologi adalah ambisi kebidangan belajar anak Indonesia pasca kemerdekaan. Pada kata pengantar cetakan pertama sudah dijelaskan, “Pelbagai negeri seperti misalnya di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Sowjet Uni, Belanda dan lain-lain, ilmu penerbangan telah lama dimasukkan kedalam rencana pelajaran di sekolah-sekolah. Buku ini dapat memberi kesempatan kepada anak-anak kita untuk belajar memahami soal-soal penerbangan sejak dari kecil. ”Tidak hanya buku ini, buku pelajaran dan bacaan era 50–60-an dipastikan memasukkan tema penerbangan sebagai pengajaran”. Warisan Orde Baru tentang belajar masih ada. Pergantian kekuasaan pemangku pendidikan memang mengonsep istilah dan gagasan baru meski belajar terutama masih mengagungkan pada kegiatan bersekolah yang memiliki masa aktif. Saat masa sekolah berakhir, belajar pun berakhir. Sekarang masanya merdeka belajar (rasa-rasanya tetap dengan kewajiban pokok bersekolah 12 tahun). ‘Merdeka’ tentu berkonotasi baik yang semoga mendekatkan diri sebagai penikmat belajar.

Setyaningsih merupakan penekun bacaan anak. Penulis emerging di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2021. Berkantor di akademitinggaldua.com. Ia dapat dihubungi via pos-el langit_abjad@yahoo.com atau pada FB dn IG: Setya Ningsih/@langitabjad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Theme Mode