Lewati ke isi utama

Vito Prasetyo

Vito Prasetyo

Di Cekungan Sungai Brantas


: Arsy
sepasang cahaya berseteru di rak-rak sunyi
adalah ingatan yang menari dalam luka-luka membisu
menyulam jarak menjadi jubah musim
dengan benang suara angin yang terlalu ringkih dalam putaran waktu

kata-kata melompat dari langit malam
menjadi retakan di tubuh semesta
jatuh ke ranjang sajak yang mengigau tentang cinta
di ujung metafora, engkau masih menjaring kata-kata

Sungai Brantas mengirim serpihan kabar
pada ladang-ladang yang menghafal musim
tapi engkau masih mengintai arah kiblat
menggali sujud dari tanah yang hanya dikenal para peziarah

batu, tidak lagi mengingat bentuknya
ia rebah dalam tasbih yang kehilangan makna
zaman kini mencerminkan dirinya
dalam layar yang diludahi, sewarna merah toska
seperti ciuman palsu dari bibir para pendusta

siapa yang membasuh puisimu,
jika gincu dalam baitmu
mengajariku cara mengutuk sajak-sajakku
yang tampak seperti burung patah sayap

andai engkau tahu
cara membaca huruf -nun-
kita bisa bertemu di surga
yang bahkan Tuhan tak sempat rindukan

Malang, 2026

Nisan bagi Sebuah Mimpi


Ilustrasi Nisan bagi Sebuah Mimpi karya Vito Prasetyo
Di sebuah restoran à la carte
musik terdengar arkais
mungkin di antara not-not lagu, ada bara api
hingga kata-kata adalah frasa retak
yang dipungut dari serpihan api
tatkala musim telah berselimut salju

Waktu berjalan lambat
seperti bekicot merayap di dinding kaca—
setiap jejak lendirnya
adalah catatan sunyi dari sesuatu
yang terus mencoba ada,
namun tak pernah benar-benar hadir

Dan waktu, bukan lagi detik
melainkan lubang—
yang pelan-pelan menelan seluruh arti,
hingga yang tersisa hanya gerak
yang tidak punya tujuan
dan kesadaran yang tak akan bisa pulang

Baron d’Holbac,
neraka telah mengajarimu
tentang bagaimana cara kehilangan cinta
yang telah engkau habiskan di Kedai Droogstoppel
Di sepanjang kemarau,
engkau telah lupa bagaimana mengeja: affaire d’amour

Kini, langit telah dibakar menjadi puing sunyi
oleh matahari yang lelah memikul makna
dan engkau duduk di antara bayang-bayang meja
yang takkan pernah menyebut namamu

Angin pun tidak lagi membawa bau tubuh kekasih
hanya bau logam dari mesiu neraka
dan setiap gelas yang kau angkat
adalah nisan bagi mimpi yang kau anggap palsu

Kau bertanya pada pisau makan:
apakah ingatan serupa jam tangan rusak
yang tetap berdetak demi ilusi waktu?
dan jawaban tak pernah datang,
hanya gema dari sendok yang jatuh,
seperti takdir

Baron,
di balik tatapan dan keberanian
kau adalah seorang anak
yang berdiri telanjang
di bawah hujan dengan nama-nama Tuhan yang tidak pernah disembah manusia
dan engkau, mencari payung dari kata yang tak pernah lengkap

Dan ketika malam melipatmu dalam kain kafan
kau sadar—
cinta itu bukan mantra kenangan,
melainkan aksara dari bara api
yang tak sempat kau bagi
di meja kosong
yang terus memanggilmu pulang

Malang, 2025
Back To Top
Theme Mode