Di tempat baru ini, aku melihat diriku sebagai burung yang hinggap di pohon rindang. Di sini, kucari keajaiban. Aku terbang ratusan kilometer, ingin memahami urusan yang sebelumnya belum aku mengerti.

Di tempat aku lahir, sepotong kayu kurus khas dari sana sekadar terlihat selayaknya tongkat. Bila ditancapkan ke tanah, ia tidak punya daya untuk memunculkan satu tunas daun muda. Bila digeletakkan saja, kalau benar jamur tiram berhasil tumbuh, payungnya tidak akan mampu menahan sengatan matahari. Malah rayap spesialis kayu kering tak juga nafsu untuk memakan.
Di tempat ini aku belajar, tongkat dapat jadi tempat tumbuh jamur yang bisa dilahap, juga dijadikan obat. Rayap nyatanya juga lebih ganas; mereka menelusup lewat celah kecil, dengan berani menggerogoti rumah pohonku diam-diam.
Belum lama, aku punya kebiasaan baru. Ketika matahari belum bangun, aku menyempatkan diri berkeliling. Sedikit bosan, sedikit juga penasaran. Hendak memastikan saja kejutan apalagi yang dapat kutemui. Aku terbang rendah untuk memandangi rumput basah, kemudian sedikit naik untuk menemui bunga cantik penuh duri. Harus hati-hati. Sekilas kelopak bunga itu serupa kertas tipis. Bunga yang lembut. Bagaimanapun menarik, cabang tanaman itu menjalar ke mana-mana seperti sarang laba-laba. Aku takut tertangkap dan burung-burung lain telah memperingatkan aku akan duri di balik dedaunan. Mereka menamai bunga itu dengan sebutan yang sulit kuingat.
Terbang lebih jauh, aku juga menemukan pohon tua berhias bunga-bunga. Belum pernah kutemukan bunga macam itu. Daun hijau kelam yang tak mudah sobek oleh angin. Di antara bunga-bunga yang menyebar di beberapa dahan pohon tua, setidaknya ada satu yang mekar. Betapa subur mereka tumbuh dengan bunga yang memiliki tiga setal dan dua petal dominasi warna putih.
“Ia sangat indah, melebihi bunga lain,” jelas burung betina yang lebih dulu hinggap. “Ia berpendar di tengah kegelapan ketika malam, seperti bulan.” lanjutnya sambil menatapku.
Pandanganku meluas dan baru kusadari burung itu tidak sendirian. Ada beberapa temannya. Mereka menyebar di dahan-dahan berbeda yang ditempeli bunga bulan itu. Aku mengangguk sambil berlalu, melanjutkan jalan-jalan.
Tidak ada yang bagus di benak burung-burung di sini jika kami berkenalan. Aku menghindari segala bentuk interaksi karena akhirnya pertanyaan mengenai asal-muasalku akan muncul. Cukup sering mereka bertanya-tanya tentang badanku yang hitam dan bulu tipis.
Beberapa kali pada awal masa pindah, aku menemui beberapa burung di sekitar sarang. Mereka bilang kampungku sebagai tempat panas, langka air. Awalnya aku agak keberatan. Seburuk-buruk rumahku adalah tempat pulang. Namun, beberapa minggu di sini, pada mulanya aku merasa tak betah karena hawa terlalu dingin dan kesulitan lain. Sekarang benakku bertanya-tanya, apa benar aku ingin pulang. Mencari makan sangat mudah. Ada banyak pohon dan bunga dengan beragam bentuk, walau akhirnya aku tetap bosan.
Hari ini, aku cukupkan terbang ke sana-kemari. Mungkin besok aku akan pergi ke arah laut, mencari daerah hangat yang sedikit mengingatkanku pada rumah. Atau ikut ke mana saja angin membawa. Namun, dari ketinggian tempat aku hinggap untuk istirahat, sepasang sayap berkepak-kepak mendekat.
“Kamu dicari.”
Kebingungan mengisi kepala. “Perihal apa?” Siapa?
“Silakan pulang.”
Burung itu terbang dan meninggalkanku terpaku memandang punggung lebarnya. Aku tidak mengenal dia. Ia bukan kaumku. Mendengar pesan yang ia beri, hanya terpikir satu sumber olehku: Ibu. Pasti Ibu menitip pesan pada kawanan burung itu dan ia rela benar-benar datang mencari aku.
Jamuan musim ini sudah disiapkan, tinggal menunggu matahari muncul esok pagi dan acara akan dimulai. Tak peduli sudah mangkir berapa kali, jamuan lalu yang telah terlewat akan diadakan kembali begitu telah sampai waktunya — yang mengharuskan aku hadir lagi.
Kali ini, burung-burung lain telah siap di tempat. Sementara itu, tergopoh-gopoh, aku buru-buru mendekat demi menghadiri rapat persiapan akhir jamuan esok hari.

“Akhirnya kamu datang,” ucap salah satu di antara mereka.
Aku menundukkan kepala pada semua yang ada di sana. Burung-burung muda tak seharusnya di sini, tetapi Ibu menyeretku. Ia bilang hanya aku satu-satunya yang belum membantu persiapan jamuan.
Ketua kami membuka rapat, diikuti bahasan akhir tentang upacara esok hari. Aku? Mereka tidak tampak membutuhkan pendapatku. Dengan pandangan kosong, aku memikirkan hal lain.
Tadi, di perjalanan menuju kemari, rasanya aku tidak pernah meninggalkan hutan ini. Setiap jalur masih kuingat dengan baik, seperti dulu. Banyak hal berubah, tetapi tanah ini, tanah putih dengan fondasi batu kapur yang sulit menyimpan air, akan selalu begitu. Satu-satunya sungai yang ada kering kerontang. Tidak ada air di permukaan. Air hujan hanya jatuh ke tanah untuk melarikan diri lewat retakan-retakan yang ada dan berkumpul jauh di bawah sana membentuk aliran tersendiri. Sungai bawah tanah. Itu sebabnya burung-burung kehausan.
Aku masih mengenali pohon yang dulu sering kujadikan transit sebelum mencari air; aku sekadar lewat dan berkicau menyapa kawan-kawanku yang tinggal di sana. Jika tidak menyahut, mereka mungkin sedang keluar. Beberapa yang masih mengingat suaraku, melongokkan kepala. Aku berkicau lagi. Mereka beranjak mengejar.
“Ke mana saja?”
“Jalan-jalan.”
Mereka menggeleng, tidak habis pikir. “Esok hari bertemu lagi di perjamuan. Sampai jumpa.”
Kepak-kepak sayap menjauh. Aku kembali sendiri hingga tak lama sebuah pohon paling besar mengadangku. Pohon itu telah ada semenjak aku lahir. Ketika bertanya pada Ibu tentang riwayat sarang, serupa juga Ibu menjawab, “Pohon itu ada, sejak Ibu ada.” Aku terdiam dan tidak menanyakannya lagi.
Acara pada hari pertama jamuan, aku menundukkan kepala lagi. Ayah-Ibu berdampingan bertengger di sebuah ranting yang dipaku di ujung kanan dan kiri. Mereka mematuk kepalaku. Aku melihat ke kiri. Sepupuku juga dipatuk oleh Bibi yang berdiri di samping Ibu.
Kami, burung-burung muda, bergeser mendapat patukan dari orang tua. Inilah tradisi kami untuk dimaafkan atas segala kesalahan. Kesalahan yang jelas terlihat, kesalahan yang sudah menjadi kabur, serta kesalahan yang bila ditilik lebih dalam bisa jadi bukan kesalahan. Namun kami perlu berpura-pura salah.
Nilai-nilai di sini kurasakan makin memborgol kakiku. Napasku yang sudah merasakan segar hidup di area lain, kini menjadi makin pengap untuk berlama-lama tinggal. Apalagi aku tak suka melakukan upacara itu.
Aku burung liar yang punya kandang jeruji transparan. Mata dan pikiranku dulu terkunci di hutan ini. Sebelumnya, tidak aku ketahui tentang area lain. Pergi terlalu jauh dengan melihat pemandangan selain pohon jati sama dengan membuat kesalahan. Kesalahan sama dengan dosa dan untuk itu aku harus berpura-pura salah, lalu minta maaf pada Ayah-Ibu saat upacara. Mereka senang melakukan itu. Namun setelah kutimbang-timbang, jika perilaku alami kemudian dicatat sebagai dosa-dosa yang membuatku ragu, apa aku perlu mengakui itu adalah dosa, lalu mengikuti aturan mereka? Dan, akhirnya minta maaf serta berjanji tidak mengulangi?
Makanan terhidang. Nafsuku hilang. “Aku tak mau makan kepompong ulat itu,” celetukku tiba-tiba di meja makan. Beberapa waktu terakhir aku juga terbiasa bermain di tepi pantai yang membuat suaraku ternyata menjadi lebih keras. Akhirnya sebelah mata semua burung memandangku.

Selepas tak betah berada di rumah, sebentar lagi aku akan kembali ke tempat itu. Ia bukan lagi daerah baru yang kutinggali, melainkan menjadi tempat sebagai pengganti rumah. Burung-burung kawan lamaku tidak bisa memaksa aku tetap tinggal seusai jamuan. Aku merasa dapat menyatu dengan mereka karena di tempat yang sama kami dilahirkan. Selalu bermain dan membuat banyak kenangan. Namun aku menemukan tempatku pulang sudah berganti jalur. Tdak lagi di sini. Aku menemukan apa yang kucari, maka aku harus kembali.
Sarang baruku masih jauh. Dalam perjalanan, kuputuskan beristirahat di pohon matoa yang tidak amat lebat. Ketika baru saja bertengger, aku hampir tergelincir. Bukan lantaran lelah. Sudah menyeimbangkan diri ke tengah dahan pun, leherku rasanya berat. Aku tertimpa sesuatu dan benda itu menyangkut. Begitu menunduk, suara mendesis panjang dan keras menyambut telingaku sebelum penampakan hewan melata hijau menjulurkan lidah langsing padaku. Dua matanya menatap tajam. Sepertiga badan ular mungil itu mengalung di bawah kepalaku.
Seketika ingatanku jatuh pada pohon yang berdaun meranggas kala kemarau. Hutan yang semula lebat seakan jadi lapangan terbuka. Tanah mengering. Ular tidak betah di sana. Juga aku, yang dulu saat kecil suka makan kepompong ulat pada masa awal musim hujan, kini tak lagi doyan. Akhirnya aku ingin kepalaku dipatuk oleh Ayah-Ibu, bukan oleh ular itu.
Badanku jatuh. Dan, aku sempat berharap tanah putih dengan fondasi batu kapurlah yang menangkapku.
Restu Lodyta, alumnus Program Studi S-1 Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang, pembaca sastra Indonesia, yang sesekali menulis cerita.