Sementara Kita Sering Berpisah
sementara kita sering berpisah tekun-tekunlah merekahkan bunga senyum bibir dan mata sejak pagi menyala di atas kompor gas pendidih air gelisah untuk secangkir kopi penuh gairah. sependek hidup sepanjang doa kita mesti pandai memotong-motong cemas mencampurnya dengan bawang dan cabe untuk sepiring telor dadar keluarga walau kini mesti menggoreng dengan tangan dan wajan masing-masing sambil saling menatap di layar smartphone seolah kita berdiri di dapur yang sama. sementara kita sering berpisah rajin-rajinlah mengingat segala kebaikan sebagaimana rindu pada kicau burung pemantik gairah kerja sepanjang hari ia energi kehidupan bagi hari-hari baik kini, esok, hingga kita tinggal bersama tanpa lagi sering berpisah tanpa harus tatap muka di layar smartphone. Jakarta, 2018-2025
Kembali ke Desa

benarkah perdamaian dunia perlu modernisasi alutsista, penyairku? tanyamu yang mustahil bisa kujawab. hujan turun sepanjang november dan telah kupatenkan penyatuan kita usai konselasi politik negeri ini tuntas tanpa dendam lima tahunan tepat saat pandemi melanda dunia. dari november ke november kita lalui rumah tangga tanpa tutorial tapi terus belajar pada segala kebaruan yang tiba dan tiba-tiba menjadi normal. apakah perdamaian dunia perlu unjuk kekuatan rudal nuklir, penyairku? tanyamu lagi yang mustahil bisa kujawab. hujan turun sepanjang november dan kita telah mantap kembali ke desa sebab kecemasan demi kecemasan senantiasa hadir tanpa permisi di luar seleberasi pembelian kapal induk atau jet tempur tanpa awak. november ini biarkan kutunaikan tugas sebelum sepenuhnya hidup di desa mungkin pasca orang-orang berwajah janji menuntaskan pesta demokrasi kembali dengan slogan: membangun dari desa Jakarta, 9 November 2025
Selendang Sulaiman lahir di Sumenep, 18 Oktober 1989. Mukim di Jakarta. Founder arsippuisipenyair.com. Puisi-puisinya tersiar di berbagai media massa cetak dan elektronik seperti Media Indonesia, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, republika.id, dll., serta di sejumlah antologi puisi bersama. Antologi puisi tunggalnya Omerta (Halaman Indonesia, 2018) dan Peta Biru Dunia Ketiga (Penerbit JBS, 2025). Bisa dijumpai di IG @selendangsulaiman dan YouTube @selendangsulaimanofficial serta pos-el sulaimanachmad1989@gmail.com.