Tempat Paling Sunyi Itu Adalah Tubuhmu
telah lama aku mencari jejakmu hilang bersama buku-buku yang kautulis kudatangi kenangan kantor tempat kau bekerja kutemukan dua sisi kiri dan kananmu katanya kita mirip katanya kau lelaki paling sunyi yang pernah dikenalnya dan kisah terus berlanjut aku dirunut ke simpananmu yang kini telah berekor tampan di wajahnya ada wajahmu yang tak pernah kuketahui aku pandai menebak-nebak saja dan semua jejakmu memang telah tiada telah cerita ujung ke ujung simpananmu itu simpanan yang membuat malamku jadi lebih mesra kadang aku bertanya pada bulan, pada langit benarkah aku mendatanginya hanya untukmu ataukah itu hanya alasan? dan aku keliru oleh perasaanku sendiri aku akhirnya berani menemui perempuan yang selama ini membuatmu sunyi aku tahu dia menyimpan kenanganmu ada harga mahal aku seperti melawan orang gila seperti harus memasuki rumah hantu rumah yang bertahun-tahun seperti tak berpenghuni ya, aku melihatmu di sana dalam lemari yang penuh debu di sana dirimu terkoyak ganas tiada darah di tubuhmu, kesunyian begitu hidup kau yang membangunnya sendiri atau perempuan yang hampir gila itu dan aku tahu bagaimana kita bisa sama adalah sebab sunyi yang betah hidup di dada kita (Baubau, 2022)
Tanah Basah

pada tanah yang basah kau masih memanggil nama berharap doa tangan-tangan mungil memungut harap bermain dengan imajinasi janganlah menunggu lagi bukankah kau sudah pulang ke rumah paling ujung meninggalkan kata-kata di pintu kamar pada tanah basah terdapat sepucuk canda dalam surat yang diantar kurir tak ada ucapan apa-apa lagi sebagian ucap terbungkus rapi terbawa angin kita menginginkan perlawanan ekstra daya yang hanya bisa manggut-manggut alam itu pulang ke rumah dahulu mengambil sedikit tenaga barangkali bisa hidup sebagai penawar jerit (Baubau, 2020)
Joe Hasan lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku puisinya Dosa Termanis (2024).