Di Cekungan Sungai Brantas
: Arsy sepasang cahaya berseteru di rak-rak sunyi adalah ingatan yang menari dalam luka-luka membisu menyulam jarak menjadi jubah musim dengan benang suara angin yang terlalu ringkih dalam putaran waktu kata-kata melompat dari langit malam menjadi retakan di tubuh semesta jatuh ke ranjang sajak yang mengigau tentang cinta di ujung metafora, engkau masih menjaring kata-kata Sungai Brantas mengirim serpihan kabar pada ladang-ladang yang menghafal musim tapi engkau masih mengintai arah kiblat menggali sujud dari tanah yang hanya dikenal para peziarah batu, tidak lagi mengingat bentuknya ia rebah dalam tasbih yang kehilangan makna zaman kini mencerminkan dirinya dalam layar yang diludahi, sewarna merah toska seperti ciuman palsu dari bibir para pendusta siapa yang membasuh puisimu, jika gincu dalam baitmu mengajariku cara mengutuk sajak-sajakku yang tampak seperti burung patah sayap andai engkau tahu cara membaca huruf -nun- kita bisa bertemu di surga yang bahkan Tuhan tak sempat rindukan Malang, 2026
Nisan bagi Sebuah Mimpi

Di sebuah restoran à la carte musik terdengar arkais mungkin di antara not-not lagu, ada bara api hingga kata-kata adalah frasa retak yang dipungut dari serpihan api tatkala musim telah berselimut salju Waktu berjalan lambat seperti bekicot merayap di dinding kaca— setiap jejak lendirnya adalah catatan sunyi dari sesuatu yang terus mencoba ada, namun tak pernah benar-benar hadir Dan waktu, bukan lagi detik melainkan lubang— yang pelan-pelan menelan seluruh arti, hingga yang tersisa hanya gerak yang tidak punya tujuan dan kesadaran yang tak akan bisa pulang Baron d’Holbac, neraka telah mengajarimu tentang bagaimana cara kehilangan cinta yang telah engkau habiskan di Kedai Droogstoppel Di sepanjang kemarau, engkau telah lupa bagaimana mengeja: affaire d’amour Kini, langit telah dibakar menjadi puing sunyi oleh matahari yang lelah memikul makna dan engkau duduk di antara bayang-bayang meja yang takkan pernah menyebut namamu Angin pun tidak lagi membawa bau tubuh kekasih hanya bau logam dari mesiu neraka dan setiap gelas yang kau angkat adalah nisan bagi mimpi yang kau anggap palsu Kau bertanya pada pisau makan: apakah ingatan serupa jam tangan rusak yang tetap berdetak demi ilusi waktu? dan jawaban tak pernah datang, hanya gema dari sendok yang jatuh, seperti takdir Baron, di balik tatapan dan keberanian kau adalah seorang anak yang berdiri telanjang di bawah hujan dengan nama-nama Tuhan yang tidak pernah disembah manusia dan engkau, mencari payung dari kata yang tak pernah lengkap Dan ketika malam melipatmu dalam kain kafan kau sadar— cinta itu bukan mantra kenangan, melainkan aksara dari bara api yang tak sempat kau bagi di meja kosong yang terus memanggilmu pulang Malang, 2025