Malam yang tegang, saat pelipis Yanto Ireng dihantam. Darah muncrat, tercecer di aspal dan trotoar, tidak berhenti, meskipun sudah ditutup lap meja sebisanya. Ia kliyengan, tetapi api di kedua matanya masih menyala.
Ia masih ingat, bagaimana perempuan itu menghampiri secara serta merta, melontarkan sumpah serapah, kemudian dengan cepat menghantamkan botol kecap Mirama ke kepalanya. Ia tak sempat menghindar. Sungguh, tak sekali pun dia pernah menyangka martabatnya sebagai preman yang berkuasa di Jalan Sudirman ini runtuh seketika. Apalagi di tangan seorang perempuan biasa.
Botol kecap itu kini sudah hancur. Isinya muntah ke aspal. Orang yang melihat mungkin kesulitan membedakan mana kecap dan mana darah Yanto Ireng. Sementara si perempuan telah menghilang.
“Asu! Bajingan!” sumpah Yanto, mantap.
Ambulans baru datang setelah satu jam berlalu. Salah seorang penonton yang menyaksikan adegan pertikaian tadi, mungkin telah memesan ambulans melalui layanan telepon. Namun Yanto Ireng terlalu gengsi untuk ditolong. Dia bersikeras menolak dua petugas kesehatan yang datang hendak menolong.
“Aku ra butuh bantuanmu!”
“Tapi, Pak, bagian kiri kepala Bapak robek. Harus dijahit.”
“Takjahit dhewe. Ning omah aku nduwe Singer!” Ia pun segera mengambil motor RX King hitam kebanggaannya dan memberikan salam perpisahan dengan tarikan kopling dan gas kanan. Blar!
Yanto Ireng berlalu. Ia tidak merasakan sakit di pelipisnya. Dia merasakan dendam, jauh di dalam hatinya yang masih membara.
Di luar, angin dingin terasa basah. Mengentak jendela kaca setinggi dua meter, sampai hampir bergetar.
“Cuaca sedang buruk, di luar prediksi BMKG,” Roni membuka percakapan, mengoyak kesenyapan.
“BMKG memang bertugas memprediksi, bukan meramal. Kalau tidak pas, bukan salah mereka.”
“Lalu, apa gunanya kalau begitu?” timpal Roni.
“Ya untuk jaga-jaga saja. Setidaknya ada peringatan awal. Jadi kita bisa siap-siap.”
Kedai kopi itu tak pernah terlalu ramai. Hari Senin memang tidak banyak orang berkunjung ke kedai kopi. Apalagi saat musim kemarau basah, yang memungkinan langit cerah berubah seketika disaput mendung yang membawa hujan disertai angin.
Sepasang sahabat itu memang tak pernah membicarakan hal-hal privat, kecuali satu hal.
“Lala bukan perempuan baik-baik. Setidaknya itu kata orang-orang,” ujar Roni sembari mengisap rokok yang tinggal setengah. Asap meliuk-liuk seperti pikirannya yang agak kacau.
“Lalu kau percaya?”
“Tentu saja tidak. Kalau aku percaya, tidak mungkin kau menemani dia selama lima bulan ini. Biasanya kau kan paling lama tiga bulan sudah putus.”
Satria hanya mengangguk sambil melipat senyum. Dia menyeruput lagi kopi hitam yang hampir dingin. Seolah ingin memastikan lagi apakah betul rasanya memang pahit.
Seperti biasa Yanto Ireng minum sebotol congyang terlebih dahulu sebelum pergi ke lahan parkir. Ini malam Minggu, malam bagi anak muda mengatur rencana berhura-hura. Restoran mahal yang berjejeran di ujung Jalan Sudirman sekarang sudah menggunakan layanan valet, bukan tempat yang cocok untuk Yanto Ireng menggasak uang receh. “Sialan!” batin Yanto.
Uang keamanan dan ketertiban tidak bisa masuk ke dalam kantongnya. Percuma dia berlatih bela diri, kalau lama-lama pekerjaannya tergantikan. Namun jalan protokol yang memiliki akses langsung ke alun-alun kota itu adalah tempat bagus untuk tetap mencari rezeki. Sepanjang trotoar menuju ke arah alun-alun akan berubah menjadi kedai-kedai kopi dan cemilan dadakan, tempat yang cocok untuk muda-mudi berkumpul dan ha-ha-hi-hi. Mereka tidak akan segan mengeluarkan biaya parkir dua kali lipat daripada biasanya.
Tidak ada yang memiliki kekuasaan di sepanjang trotoar itu, kecuali Yanto Ireng, yang sudah menyandang nama kehormatan di dunia malam di sepanjang Jalan Sudirman selama 10 tahun. Itu sejak dia berhenti tumbuh menjadi remaja dan melesat menjadi laki-laki dewasa.
Lahan parkir itu sudah membuat hidupnya sejahtera, cukup untuk membeli makan dua kali sehari, dua bungkus rokok, satu botol congyang, serta token listrik rumah seminggu sekali. Dia pun masih bisa menabung dan membeli motor Ninja dua tak warna hijau daun rambutan untuk kebutuhan mejeng dan kopi darat, Juga masih sangat cukup untuk membeli bensin buat jalan-jalan kalau dia bosan nongkrong di trotoar.

Lambat-laun Jalan Sudirman yang dulu sepi, kini ditumbuhi restoran dan hotel bintang tiga. Mereka mengerti cara memonopoli lahan parkir dengan menerapkan sistem valet. Yanto ireng paling membenci hal itu.
Dulu berebut lahan parkir bisa dengan adu duel dan Yanto Ireng pasti menang. Bukan karena punya ilmu kebal, melainkan Yanto Ireng memang jago silat. Sejak kelas lima sekolah dasar, Yanto Ireng sudah tergabung dengan perguruan silat Tapak Melati. Keahlian bersilat memang membuat Yanto Ireng disegani dan ditakuti para preman lain di Jalan Sudirman. Terlebih dia memiliki karisma yang tidak semua preman punya. Menatap matanya yang tajam dan rambutnya yang panjang bergelombang saja sudah membuat nyali orang ciut.
Yanto Ireng tidak gendut dan buncit seperti preman lain di jalanan. Dia lebih mirip reserse; cenderung kurus, agak tinggi, dan tentu saja tenaganya boleh diadu.
Namun untuk apa itu semua? Toh dia tidak bisa melawan sistem valet. Kalaupun mau mengambil keuntungan menjadi penjaga parkir valet yang lebih necis, Yanto Ireng tak punya ijazah SMA. Dia hanya anak SMK yang putus sekolah karena bengal. Tawuran dan adu jago antargeng sekolah masih menjadi kebiasaan anak-anak sekolah menengah pada masa itu; melepaskan adrenalin dan mengikuti lonjakan hormon memang sangat merepotkan.
“Cih! Untuk apa jadi satpam, kacung, dan pesuruh orang-orang kaya?” kata hatinya.
Meski tak dapat memungkiri, terkadang dia juga membayangkan rasanya memakai seragam satpam berwarna hitam legam itu. Menjadi laki-laki gagah yang rajin menyisir rambut, memberikan minyak rambut sampai kelimis, dan memakai parfum wangi. Biasanya ia akan berupaya menirukan gaya satpam di depan cermin kamar mandi. Kadang ia cekikikan sampai bosan. Lalu kesal dan pergi dengan membanting pintu.
Di sudut lemari plastik, bagian kanan atas, di sebelah sempak, bertengger ayam jago warna merah saus tomat; ayam celengan milik Yanto Ireng. Celengan ayam berwarna terang itu kontras dengan semua busana yang serbagelap. Sebagai preman “idealis” berprinsip berdikari, Yanto Ireng tidak pernah mau berurusan dengan bank. Dia menolak membuka rekening, apalagi memakai kartu kredit. Hal itu bukan tanpa alasan.
Celengan ayam itu berbeda dari celengan anak SD, yang berisi koin-koin berwarna perak dan kuning. Celengan Yanto Ireng lebih ringan, karena berisi uang 50.000 dan 100.000. Ia berambisi membantu melunasi utang Ibu.
Ya, Ibu bernasib malang. Dia terlilit utang karena termakan promosi kredit usaha rakyat. Semenjak diputus hubungan kerja oleh perusahaan konfeksi, sang ibu berjualan kerupuk terung. Ibu memang perempuan ulet dan tak kenal diam. Untuk mewujudkan ambisi memiliki pabrik kerupuk, ia terdorong meminjam uang lewat kredit usaha rakyat.
Ibu sudah membayangkan seperti apa rupanya jika halaman rumah tak lagi berhias kandang ayam dan pohon rambutan, tetapi pabrik penggorengan kerupuk sekaligus kios kecil dengan pajangan berbagai varian kerupuk yang pernah manusia lihat; seperti kerupuk terung, kerupuk rambak, kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk gandum, kerupuk makaroni, kerupuk seblak aneka warna. Oleh karena itulah, Ibu tak segan-segan meminjam uang 50 juta dari bank. Ibu dengan mantap menjadikan sertifikat tanah, warisan dari Bapak yang meninggal dua tahun sebelumnya, sebagai jaminan.
Tahun pertama, kedua, ketiga, dan dua tahun setelahnya berjalan lancar; kios dan pabrik kecil-kecilan terbangun. Penjualan kerupuk meningkat pesat, hingga Ibu mampu merekrut dua pegawai laki-laki yang siap goreng-menggoreng setiap hari dan dua pegawai perempuan di bagian pengemasan. Ibu menjadi sales marketing dan owner.
Yanto Ireng kebagian mengantar pesanan kerupuk keliling pasar dan bakul-bakul mi ayam bakso, angkringan, hingga warung nasi pecel dan tahu gimbal. Itu dia lakukan sejak pagi hingga siang hari. Malam hari, Yanto Ireng bekerja sebagai montir bengkel khusus motor balap liar, memanfaatkan keterampilan dari hasil belajar di sekolah menengah kejuruan.
Bisnis kerupuk Ibu berjalan lancar hingga mencapai keuntungan hingga 300 persen. Hal itu membuat Ibu makin yakin atas usahanya. Ibu pun berniat mengembangkan pabrik kerupuk ke skala lebih besar. Ia terdorong kembali menggunakan program kredit dari bank. Kali ini Ibu menaikkan nominal pinjaman menjadi 100 juta rupiah tanpa berpikir panjang.
Sayang, nasib tak mencintai tahun Tikus Logam. Pandemi datang bagai meteor jatuh ke tanah Jawa. Berdentum. Menghancurkan kerupuk panas yang baru saja digoreng. Remuk!
Masa yang benar-benar sulit dan membuat berbagai usaha gulung tikar. Bakul mi ayam dan bakso kehilangan pelanggan. Penjual mi ayam pulang ke Wonogiri. Penjual bakso pulang ke Malang. Pemilik warung pecel pulang ke Madiun. Kecuali, pemilik warung tahu gimbal yang masih bertahan di Semarang.
Daya beli masyarakat menurun drastis, sementara harga minyak goreng berangsur mahal. Orang-orang lebih memilih memasak di rumah daripada mengambil risiko tertular virus Covid-19 jika harus membeli di warung makan; mereka takut bertemu orang asing.
Orang-orang hanya keluar seminggu sekali untuk berbelanja. Itu pun langsung memborong banyak bahan makanan mentah yang murah dan awet, seperti makanan dan minuman kaleng, dan membeli lebih banyak vitamin dan masker daripada sebelumnya. Pekerjaan yang semula dilakukan di dalam kantor pun, seketika menjadi work from home.
Dalam kondisi kacau seperti itu, dana untuk membayar pegawai pabrik kerupuk pun menipis hingga tak ada sama sekali. Pegawai Ibu pun terpaksa pulang ke rumah masing-masing. Mantan pegawai laki-laki lebih tergiur dengan lowongan pekerjaan baru yang menawarkan bayaran tinggi. Mereka menjadi penggali kubur dan pengurus pemakaman.
Itulah akhir dari bisnis kerupuk Ibu. Bangkrut tidak bisa dielakkan lagi, padahal Ibu masih harus membayar utang di bank.
Ini tahun pertama Roni menjadi seseorang yang bukan kapiten, meskipun memiliki pedang panjang. Roni mendapat sebilah pedang bagus dan mulus dari perajin besi tua di Gunungpagi. Sebuah pedang sepanjang satu meter dan amat ringan. Tentu bisa melukai tubuh manusia dengan sekali tebas.
Ya, Roni adalah bajingan sesungguhnya.
Hari Sabtu, lewat tengah malam, adalah waktu yang sempurna untuk sebuah pertunjukan; membalas dendam dan mendapat pengakuan.
Lala pulang larut. Malam ini pembukuan baru selesai tengah malam. Tutup buku akhir bulan ini tepat pada hari Sabtu. Kantor bank tempat Lala bekerja berada di deretan tengah sepanjang Jalan Sudirman, yang masih ramai pada akhir pekan begini. Angkringan di seberang jalan juga masih buka, meskipun gorengan sudah kelewat dingin. Angkringan sepi, tidak seramai hari-hari biasa.
Lala berparas cantik, manis khas Jawa, meski agak pendek. Dia berwajah lonjong, berkulit bersih berwarna kuning langsat, kornea mata bulat hitam legam seperti biji kelengkeng terbingkai indah oleh alis nanggal sepisan, hidung mbangir agak besar dan tegas, bibir penuh berwarna merah merekah, rambut panjang sebahu, gigi rapi. Siapa pun senang jika melihat perempuan itu tersenyum lebar.

Lala lumayan lincah. Tenaganya tak habis-habis. Kemungkinan karena ia suka makan manis atau yang mengandung gula.
Lala berpindah dari kota kecil dengan perekonomian rendah menuju ke kota yang ingar bingar di Jawa Tengah. Ia mengadu nasib di ibu kota provinsi yang mampu menghasilkan pendapatan tinggi. Namun, ternyata, pendapatan tinggi itu hanya khayalan; tak sepadan dengan gaya hidup dan kebutuhan.
Lala sering kali merasa penat.
Malam ini, Lala tidak ingin pulang. Ia masih merasa bugar, meski kepalanya terasa penuh. Lala membatalkan diri untuk pulang ke rumah kos. Dia mengajak kekasihnya mampir membeli minuman ke sebuah pub tak jauh dari tempatnya bekerja.
“Aku gak jadi pulang ke kos. Pengin minum tipis-tipis di Le Jardin. Kepalaku pusing banget. Sumpah! Kamu nyusul yaaa…. Please…..”
Usai mengetik pesan singkat itu, Lala bergegas melangkah menuju ke pub. Pub itu tak jauh dari tempat Lala bekerja. Lala cukup berjalan 100 meter menjauhi alun-alun, belok ke kiri sejauh 50 meter, lalu sebuah restoran bergaya modern minimalis akan menyambut. Namun Lala tidak segera masuk melalui pintu utama. Dia lewat pintu samping yang lebih kecil. Pintu kecil itu memiliki jalan memutar menuju ke lantai bawah, tempat musik dapat diputar lebih kencang melalui monitor audio dan minuman segala macam rasa tersedia.
Ini malam pas sekali, karena ada pesta mingguan. Pengunjung lebih ramai dan promosi membeli paket minuman juga sedang gila-gilaan. Cocok bagi Lala menenggelamkan penat ke dalam ingar-bingar.
Beberapa saat kemudian, Lala merasa pengar, lalu lapar. Ia pun mengajak sang kekasih mampir ke angkringan yang biasa buka sejak malam hingga pagi. Itulah angkringan di Jalan Sudirman. Angkringan Surup.
Lala yang kelaparan menyambar gorengan yang tidak menarik itu, Dia ambil cepat-cepa dan makan dengan lahap. Belum selesai makan dua buah gorengan dingin secara hampir bersamaan, Lala mengambil nasi lauk teri, dan minta tambah satu porsi Indomi rasa ayam bawang plus telur dan potongan onclang. Lala seperti monster yang baru keluar dari kandang setelah satu minggu tidak diberi makan.
“Pak, es teh nggih. Dua,” ujar Lala.
“Kula teh anget, Pak,” timpal Satria.
Setelah kenyang dan kembali lagi ke marwahnya sebagai manusia, Lala bisa diajak bicara.
“Masih pusing?” tanya Satria.
“Udah nggak sih, tapi lumayanlah,” sahut Lala.
“Ya, lumayanlah. Tadi kamu jingkrak-jingkrak gak jelas. Musiknya apa, jogetnya apa,” ujar Satria sedikit tersenyum sembari membayangkan kejadian beberapa jam lalu.
“Apa iya?”
“Iyalah! Aku sampe malu, tahu! Untung, semua orang asyik sendiri-sendiri. Bayangin aja kalau mereka semua sadar atas jogetanmu tadi. Pasti udah diangkut ke Semarang Zoo.”
Lala terbahak. “Ha-ha-ha-ha! Parah. Masa iya ke kebun binatang!”
“Ha-ha-ha! Lagian kamu gak kontrol sih,” ujar Satria. Tawanya meledak.
“Iya kan tadi ngerasa vibing banget waktu ‘Dance Monkey’ diputar, terus keterusan anjir,” cerocos Lala. Kemudian ia menirukan gaya khas primata itu tanpa malu-malu. ”Enak juga joget gaya monyet. Kaya begini nih!”
Tawa keduanya pun pecah. Satria sesekali memegang perut karena tak berhenti tertawa. Lala sesekali mengusap kelopak matanya yang berair.
Yanto Ireng tak senang melihat pasangan yang sedang jatuh cinta itu mampir di Angkringan Surup, wilayah parkir kekuasaannya, tempat dia nongkrong pada malam hari. Apalagi melihat Lala bisa tertawa lepas bersama laki-laki yang baru ia pacari lima bulan. Yanto Ireng terlebih dahulu naksir Lala, tetapi kalah cepat oleh satpam kantor bank tempat Lala bekerja itu.
Sembari duduk di atas jok motor RX King hitam, ia mulai overthinking. “Apakah aku kurang ramah?” batin Yanto Ireng. “Apakah aku harus belajar senyum ala pasta gigi dan mencoba untuk berkata, ‘Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?’, dengan nada rendah, suara renyah, dan mata berbinar?”
Tidak! Yanto Ireng sudah mencoba hal itu ribuan kali di depan cermin kamar mandi. Namun tetap gagal. Tak pernah pantas, Malah ia terlihat seperti orang yang ingin menipu dengan hipnotis gendam.
Yanto Ireng tak pernah terpikir untuk jatuh cinta, apalagi pada Lala. Setiap beroperasi di Jalan Sudirman, Yanto Ireng tak pernah absen melihat Lala di depan pagar Bank Arta Jaya, menunggu angkot sore atau ojek online jika kemalaman. Lala selalu pulang dalam keadaan rapi. Rambutnya yang panjang sering kali dia biarkan saja tergerai. Seperti model majalah, setidaknya itu yang ada dalam pikiran dia. Saat angkot sore berwarna jingga mendekat ke arah Lala, saat angin berembus perlahan melewati sela-sela rambutnya, saat itu adalah waktu yang ajaib bagi Yanto Ireng untuk jatuh cinta.
Yanto Ireng tidak tahan melihat kekuatan asmara mereka berdua. Ia pergi dari area parkir, mengendarai RX King hitam menuju kedai Pak Yoyok, tempat dia berlangganan membeli sebotol congyang. Tidak jauh dari Angkringan Surup, hanya 300 meter saja melewati alun-alun. Yanto Ireng hanya perlu membuka cool case dan mendapati botol congyang berjejeran. Ia mengambil dua botol dan membayar dengan uang tunai. Satu botol ia habiskan sekali tenggak. Ia kelewat cemburu. Tak tertahan. Satu botol lagi ia ingin bawa ke lahan parkir. Namun karena tidak ingin repot membawa botol, ia meminta Pak Yoyok menuangkan isinya ke dalam kantong plastik, lalu memberi sedotan. Ia pun kembali ke angkringan untuk kembali bekerja sebagai preman sejati, meskipun hatinya terasa remuk.
Suara RX King menggelegar mengisi Jalan Sudirman yang sunyi. Sudah pukul 03.00. Yanto Ireng sangat suka pada suara bising dari jet darat itu. Jadi sesekali dia menggeber-geber motor supaya lebih nyaring sekaligus menutupi suara di dalam kepalanya yang berisik. Ia hampir sampai ke tempat tujuan ketika muncul suara motor yang terdengar makin menggelegar. Ternyata tak hanya Yanto Ireng yang mengendarai RX King. Ada motor serupa melaju lebih cepat, menyalip Yanto Ireng secara ugal-ugalan. Yanto Ireng tersentak dari rasa pening. Di depan mata, ia melihat kilatan perak berayun cepat, kemudian motor itu kembali melaju pesat.
Yanto Ireng yang agak teler telanjur sedikit melewati angkringan, ketika jeritan Lala terdengar dari arah belakang. Seketika wajah teler Yanto Ireng membuyar.
“Aaaaa…, tolong!” seru Lala.
Satria kena bacok.
Semua orang, yang duduk di pinggir jalan menikmati makanan, panik. Suasana menjadi tak keruan.
“RX King! RX King! Tadi naik RX King!”
“Itu orangnya!”
Orang-orang menatap Yanto Ireng. Sial! Di tengah kepanikan dan suara riuh menuduh, Lala melihat wajah Yanto Ireng.

“Bukan, bukan aku!” kata Yanto Ireng membela diri.
“Bukan, itu Yanto.”
“Bukan itu yang tadi membacok.”
“Bukan, yang bacok pakai jaket hitam.”
“Tapi dia pakai jaket jins.”
“Jins hitam?”
“Bukan, bukan!”
Yanto Ireng panik bukan main. Belum sempat ia memarkir motor dengan benar, dari kerumunan orang yang kacau itu tiba-tiba muncul wajah Lala. Raut wajah marah, dengan napas terengah-engah. Yanto Ireng bisa merasakan kebencian dari mata Lala, tanpa menyadari tangan kanan Lala menggenggam leher botol kecap Mirama yang masih berisi penuh, meski segel sudah terbuka. Dengan sekali entakan, Lala menghantamkan botol kecap manis itu ke pelipis kiri Yanto Ireng. Keras! Yanto Ireng terhuyung ke samping, ke depan, ke belakang, lalu pingsan. Ambruk bersama RX King kebanggaan.
Lala yang dipenuhi amarah berlalu, sembari memapah sang kekasih yang berdarah-darah menuju area parkir mobil. Mereka pergi, menjauh dari angkringan, tertatih-tatih.
Jinawi Rana Putri lahir di Lumajang, Jawa Timur, tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Tamatan Sekolah Tinggi Multimedia MMTC Yogyakarta ini pernah menjadi jurnalis video Kompas TV selama delapan tahun. Saat ini, dia fokus menjadi penyair “Puisi on the Spot” di Gramedia Jalma Pandanaran. Bukunya yang telah terbit adalah kumpulan puisi Sabda Diri: Visual Puitis Vernacular 2020-2024.