(1)
Matahari membakar ubun-ubun. Kesibukan terus berjalan seperti waktu tak akan pernah berhenti. Kampung yang tinggal puing-puing itu benar-benar seperti kampung yang mati. Hanya tinggal beberapa warga lagi yang masih di tempat itu: membenahi beberapa ‘harta miliknya’ atau sekadar ‘mbalelo’ tak mau meninggalkan tempat itu.

Sementara warga yang lain sudah pergi sejak pagi tadi. KAMTIBUM (Petugas Keamanan Ketertiban Umum) masih berada di daerah yang kini telah “bebas penghuni”, mondar-mandir untuk mengawasi warga di situ. Dari warga yang tinggal di situ, tampak perempuan muda beranak satu (kira-kira berusia 3 tahun dalam pelukannya) masih terisak. Ia duduk di atas onggokan puing bekas gubuknya. Pandangannya nanar, hatinya nelangsa. Ia sedang diwawancarai seorang wartawan dari sebuah surat kabar.
IMAH:
Imah mau bilang apa? Mau berbuat apa? (berhenti sejenak untuk menyeka air matanya). Mau protes, protes pada siapa? Imah tak tahu harus mengadu pada siapa? (Sebentar kemudian ia menyeka keringat yang membasahi jidat anaknya). Bahkan Imah juga tak bisa melakukan apa-apa, ketika gubuk Imah ini diruntuhkan. Cuma Kang Warki yang mau coba bertahan, tapi akibatnya, Kakang dianiaya. Kakang mati ditimpa kayu, tertimbun gubuk ini. (Kata-kata Imah terputus-putus karena menahan isak. Tergambar di wajahnya ada penyesalan sekaligus dendam membara).
WARGA I:
(Mendekat, lalu berujar). Siapa to, Imah?
WARTAWAN:
Kenalkan, pak. Saya Jantan, wartawan dari surat kabar Suara Jelata. (Membuka tutup kamera itu). Sebentar, pak, boleh saya mengambil gambar Bapak? (Lalu jepret-jepret dua kali). Terima kasih, pak.
WARGA I:
Memang keterlaluan, lho mas, para petugas itu. Memangnya kami ini hewan? Kami ini kan manusia. Kasihan suami Imah, dia jadi korban dari rencana pembangunan.
(Berhenti sejenak untuk mengambil rokok yang ditawarkan wartawan. Jantan memberikan api padanya, lelaki itu mendekatkan rokoknya).
Padahal, pembangunan itu kan untuk kebahagiaan rakyat. Tapi kalau begini caranya, bagaimana mungkin rakyat bisa sejahtera? Tuh, wong, sekadar-sekadar rakyat disuruh pindah, disuruh transmigrasi pula. Iya kan mas?
WARTAWAN:
Kalau sudah begini, rencana Bapak mau ke mana?
WARGA I:
Entahlah, mas. Mau pulang ke desa rasanya sudah tidak mungkin. Mau tinggal di kota ini, cari tempat lain, ya di mana?
IMAH:
Entahlah, sekarang Imah mau ke mana. Imah sendiri tak tahu.
Fade-out.
(2)
Fade-in
WARGA II:
Kami di sini orang-orang urban. Hanya ingin mempertahankan hidup untuk hari ini. Kami tidak pernah berpikir bagaimana nasib kami dan keluarga kami pada masa mendatang. Seperti air, kami hanya mengalir mengikuti arus. Tak pernah berpikir macam-macam, hidup untuk hari ini saja bagi kami sudah cukup. Kami tak neko-neko dalam hidup ini.
PETUGAS:
Hei, sedang apa kalian? Mau rencana mbalelo, ya? Ayo cepat bawa barang-barang kalian yang masih tertinggal, sudah itu tinggalkan tempat ini!
WARTAWAN:
Sebentar, pak. Saya masih perlu keterangan dari mereka.
PETUGAS:
Anda siapa, dan dari mana?
WARGA II:
Dia wartawan, pak. Dari surat kabar mana, mas?
WARTAWAN:
Dari Suara Jelata. Maaf, pak. Boleh saya tahu daerah ini akan dijadikan apa oleh Pemerintah?
PETUGAS:
Maaf, saya tidak bisa menjawab. Sebaiknya Anda tanyakan langsung pada Wali Kota. Beliau yang punya hak untuk menjelaskan. Maklum, Pak, kami hanya disuruh untuk mengamankan daerah ini.
(Kemudian ia permisi untuk meninggalkan tempat itu.)
Saya mohon, wawancaranya jangan lama-lama, biar mereka secepatnya angkat kaki dari tempat ini. Sebab mulai malam ini, daerah ini harus sudah “bebas penghuni.” Coba saudara lihat, beberapa patok itu, sudah siap kami pasang.
(Dia menunjuk beberapa patok bertuliskan “daerah bebas penghuni” dan “dilarang membangun tempat tinggal di kawasan ini”).
Petugas KAMTIBUM itu pun eksit. Diikuti warga I, warga II dan beberapa warga lainnya. Kini di tempat ini tinggal Imah dan wartawan.
IMAH:
Di sini Imah tak punya famili, di kampung Imah sudah lama sudah sebatang kara dan tak punya tanah. Imah belum punya kepastian, entah bagaimana nanti saja. Imah ingin ikut mengalir seperti orang-orang lain yang mengajak, yang penting anak Imah hidup.
(Imah berhenti sejenak. Wajahnya makin nelangsa, lalu ia menatap anak lelakinya.)
Imah ingin membesarkan anak Imah, ingin menyekolahkannya sampai pintar. Imah tahu, itu hanya mimpi. Imah sadar, orang bodoh tak bisa hidup, jadi bulanan mereka pun pintar, ya, engger?
(Imah masih terisak. Dipandangnya puing-puing bekas gubuknya yang nyaris rata dengan tanah. Hanya beberapa bungkus pakaian, beras setengah liter, perabot dapur dan sebuah radio kecil. Hanya itulah barang-barangnya yang mungkin dianggapnya berharga).
IMAH:
Imah seperti bangun dari mimpi, lalu melihat kenyataan pahit seperti ini. Sekarang Imah sudah tak punya apa-apa lagi, bahkan tabungan Imah yang disimpan baik-baik juga ikut lenyap.
Black-out
(3)
Fade-in – Posisi berubah
WARTAWAN:
Mbakyu Imah, kalau boleh saya tahu bagaimana pertama kali Mbakyu kenal dengan Kang Warki. Tapi kalau Mbakyu keberatan untuk mengungkapkan kenangan manis itu, ya saya maklum.
(Sejenak Imah menunduk. Lalu terlihat dari wajahnya bercahaya. Ia tersenyum. Seolah terbayang jelas saat-saat Kang Warki menggoda)
IMAH:
Kami berkenalan ketika kami sama-sama sebagai pemulung. Di tempat pembuangan sampah. Kang Warki bilang pada saya katanya saya ini cantik. Setiap kali ia berjumpa dengan Imah, selalu saja ia bilang begini “Sebenarnya kamu ini cantik, lho Imah. Aku seneng sekali sama kamu.”
(Ucapan Kang Warki diucapkan Imah dengan manja, laiknya gadis remaja.)
Waktu itu saya malu-malu. Tapi akhirnya Imah Ialu luluh, sehingga kemudian kami menikah di kampung Kang Warki di Kedongombo – sebuah desa yang kini dibebani oleh penggusuran. Setelah menikah itu kami kembali lagi ke sini, dan membangun gubuk demi mengais rezeki dari sampah ini. Sebelumnya, Imah tak lagi cari kardus-kardus dan logam bekas. Namun kan tetap saja butuh uang. Dan Kang Warki meminta Imah tetap bekerja di tempat ini. Dan sejak kapan, tinggal bersama dia.
Di gubuk Imah kini hanya tertinggal papan-papan bekas, kasur busa sudah panjang sekaligus meja kayu hingga Imah telah membuat rumah tangga sendiri. Gubuk bagi saya sejuta jarum yang siap menusuk kulit Imah, lalu membelai kepala anak kecil itu dan untuk sejenak kemudian memotret anak kecil itu.
WARTAWAN:
Mbakyu mestinya berpikir untuk membangun rumah di tempat ini. Misalnya, apakah suatu saat tempat ini akan dibangun atau bagaimana?
IMAH:
Ya, orang-orang hanya membikin gedung-gedung bertingkat untuk kantor, untuk toko, untuk swalayan atau untuk hotel. Enggak perlu rumah-rumah seperti ini!
WARGA IV:
Betul, mas, apa yang dikatakan mbakyu Imah memang benar. Orang hanya mementingkan pembangunan fisik yang menjulang langit. Karena untuk pembangunan hotel, pembangunan bungalow ataupun pembangunan lapangan golf dan sirkuit balap. Maka orang-orang kaya itu tak tega-teganya menggusur rumah-rumah rakyat. Menggusur sawah-sawah ataupun ladang-ladang rakyat kecil. Jadi orang-orang kecil saja yang jadi korban dari semua pembangunan itu. Sungguh lho mas, ini kenyataan. Nggak bisa dipungkiri! Tapi… tolong jangan ditulis ya mas, bisa-bisa dimatiin, nah mas mau hidup dari mana?
WARGA III:
Kita kenapa takut. Apa yang sampean katakan itu memang kenyataan, apa yang kita alami ini bukan cerita dalam cerita. Dan mas wartawan, kalau memang mau menulisnya, juga dapat dari kenyataan. Bukan karangan mas wartawan sendiri. Jadi untuk apa kita takut?
WARGA IV:
Alaa… sampeyan bisa saja ngomong sekarang. Tadi, waktu petugas mengobrak-abrik tempat ini, sampeyan tidak bilang apa-apa. Manut, seperti tikus tersiram air.
(Imah belum juga beranjak dari tempat itu, meski salah seorang petugas sudah bolak-balik di hadapannya)
IMAH:
Tak ada yang perlu ditakuti lagi. Sebab ketakutan hanya membuat kekuatan kita tak berfungsi lagi. Kita mesti melawan ketakutan dengan keberanian meski apa pun risikonya. Hanya dengan keberanian untuk hiduplah, kita bisa menembus kehidupan ini yang keras!
Karena kita semua ini pasti mati, Imah sudah tidak takut lagi dengan mati. Nanti atau sekarang kematian pasti datang, jadi apa bedanya? Imah ingin jadi pemberani, biar Imah tidak diombang-ambingkan oleh kehidupan. Imah cinta dengan anak Imah ini, karena itu Imah harus berani melawan nasib.
(Tiba-tiba pandangannya tajam. Menembus jauh ke depan.)
WARTAWAN:
Baiklah mbakyu, bapak-bapak. Terima kasih atas keterangannya. Saya ingin menulis laporan ini di kantor. Mudah-mudahan besok saya bisa datang lagi menemui mbakku. Saya merencanakan tulisan saya ini dapat bersambung, untuk menyuarakan rakyat kecil. Karena koran kami memang menyuarakan rakyat jelata, seperti namanya: Suara Jelata. Koran satu-satunya yang membela rakyat kelas bawah. Memang kita harus berani melawan ketertindasan, kita harus berani melawan penguasa yang tidak adil. Itu sebabnya kami menerbitkan koran Suara Jelata. Sebagai corong atau sebagai mediator masyarakat yang dianggap tak punya keberanian berpendapat itu. Saya permisi dulu, selamat sore.
(Wartawan itu eksit. Setelah itu lampu berubah temaram, karena malam makin beranjak kelam)
Sampai larut malam Imah masih berada di tempatnya. Sementara anaknya sudah lelap di atas bantalan kain dan di atasnya selembar kain yang dikembangkan sebagai atap. Imah menghidupkan (api) unggun untuk mengusir nyamuk dan menghilangkan rasa dingin. Imah tak bisa terpejam. Terdengar gumamnya yang menggambarkan sakit hatinya pada kekuasaan yang meradang. Perasaannya meronta-ronta.
Sejurus kemudian Imah melipat kedua lututnya merapat ke dadanya. Daerah “bebas penghuni” itu hanya tinggal beberapa orang lagi. Imah menguap. Matanya memandang langit yang bertaburan bintang. Lalu ia tersenyum, mungkin ia sedang bertatapan dengan Kang Warki, suaminya. Terdengar suara Kang Warki.
Black-out
(4)
Spotlight — arahkan kepada Warki dan Imah di tengah panggung
Imah duduk di tumpukan rongsokan, Warki berdiri di sebelah kanan. Anaknya masih tertidur. Mungkin sudah hampir satu jam. Sesekali ia usap wajahnya, kemudian ia tersenyum. Manis.
WARKI:
Kamu baik-baik saja Imah? Aku yakin kamu tetap baik, kamu akan selalu ikhlas. Seperti kamu begitu ikhlas menjadi istri kakang. Iya kan?
IMAH:
Aku harus bilang baik? Bagaimana mungkin bisa, Kang, sedangkan saat ini aku tak baik-baik. Tetapi untukmu Kang, harus kubilang “aku baik”. Aku akan asuh, rawat, dan jaga anakmu.
WARKI:
Anakmu juga Imah, lahir dari rahimmu. Anak kita…
IMAH:
Ya anak kita… Maaf Kang, maafkan Imah kalau salah.
WARKI:
Ya Imah, Kang Warki maafkan. Pergilah dari tempat itu. Lupakan, musibah akan datang pada setiap manusia. Untuk menguji kita apakah kita ikhlas, sabar, dan tetap bertakwa.
Imah menunduk. Memandangi jalan yang terbentang di depannya. Meski terasa panjang dan tidak berujung.
Tiba-tiba kaki Imah seperti terpaku. Berat sekali untuk melangkah. Sebab, ia pun belum punya tujuan.
Sejenak gelap (lampu padam), kemudian terang.
WARGA (PEREMPUAN):
Imah, kau masih di situ? Kenapa tak juga tinggalkan tempat ini. Nanti ada pihak keamanan, dan kau bukan saja digebah. Tapi, malah diperkosa. Dianiaya…
IMAH:
(Tersadar)
Ya mbak, ya… Ini saya mau pergi. Mau tinggalkan neraka hidup ini. Tapi… saya belum punya tujuan.
WARGA:
Ooo. Saya juga belum ada tujuan. Mau kembali ke kampung, sudah tak ada keluarga. Ayuk, kita jalan. Biarkan jalan yang mengantar ke mana. Percayakan pada Tuhan, Dia tidak akan menutup mata. Tidak akan membiarkan hamba-Nya terlantar.
IMAH:
Mengangguk.
WARGA:
Tapi, mungkin…. aku akan coba datangi keluarga ibu di kota. Aku minta saran, aku harapkan nasihatnya. Ke mana aku kini setelah tak ada rumah. Barangkali sementara untuk dua sampai sepekan aku menumpang di sana. Setelah itu, dapat atau tidak pilihan, aku harus jalan.
IMAH:
Ke mana?
WARGA:
Hanya langkah yang tahu, aku tidak. Hanya Tuhan Maha Tahu, aku buta. Hanya waktu sebagai penentu, aku cuma angka. Serahkan pada semesta, kita hanya butir yang digerakkan oleh angin dan air.
IMAH:
Andai ada yang mengajakmu kerja di…
WARGA:
Babu? Siap. TKW? Oke. Bahkan diajak jadi pelacur! Kalau sudah tak ada pilihan, daripada mati dirajam kemiskinan, dipalu kepapaan. Aku tak mau mati karena derita, sebab nasib. Kepalang sudah menjanda. Enak amat lelaki, begitu menderita dia tinggalkan aku. Dia pilih kumpul kebo dengan perempuan lain.
IMAH:
Mbakyu, jangan ngomong macem-macem. Itu doa, gak baik. Istighfar. Berdoa yang baik-baik saja.
WARGA LAIN:
Betul teh. Benar kata dek Imah. Hidup terbuka lebar, langkah kita terbentang luas. Semesta ini memberi apa yang dimaui manusia. Setiap ciptaan, Tuhan sudah menentukan rezeki masing-masing. Secara halal, masih banyak…
WARGA:
Entahlah, aku begitu ragu…
IMAH:
Semoga mbakyu terbebas dari keraguan.
Datang warga, perempuan dan lelaki, mendekati Imah dan warga yang sedang mengobrol.

LELAKI:
Maaf, bisa saya ikut ngobrol?
Tak ada respon.
PEREMPUAN:
Mbakyu-mbakyu, maaf kami boleh nimbrung?
Masih diam.
Kami turut berduka, prihatin, sedih. Tetapi, suka dan duka akan menimpa setiap manusia. Musibah dan berkah silih datang pada manusia. Dan kita sesama manusia, diharuskan saling membantu. Yang berkecukupan dapat menolong yang tidak, dan yang tidak ada dibolehkan meminta bantuan kepada yang ada.
IMAH:
Apa yang bisa..
WARGA:
Maaf, mbak dan mas ini bukan warga sini kan? Dari mana, kalau boleh kami tahu. Dan apa yang diinginkan dari kami? Kami di sini sedang berduka, rumah warga di sini baru digusur dengan cara dibakar. Ludes semua milik kami, harta dan masa depan kami…
LELAKI:
Itulah maka kami hadir. Kami mau menawarkan, apakah bapak atau ibu mau bekerja di luar negeri. Kami bisa bantu, kalau mau jadi TKI di Malaysia, Brunei, atau Singapura.
Kami siap membantu.
PEREMPUAN:
Ya benar, apa yang dikatakan teman saya. Kami sedang mencari tenaga kerja, mungkin dengan bekerja di luar negeri akan mengembalikan apa yang telah hilang dari bapak dan ibu di sini.
Barangkali, ini jalan untuk lebih baik ke depannya. Mungkin, karena penggusuran sebagai sebab warga di sini untuk merantau dan bekerja di negara luar. Siapa tahu, kami menjadi perantara bagi bapak dan Ibu untuk jadi lebih baik. Setidaknya dapat menghapus stres karena musibah ini.
LELAKI:
Kalau mbak mau kerja di kota juga bisa. Kami akan salurkan ke biro penampung pekerja, sebelum dicari tempat bekerja.
PEREMPUAN:
Kami punya kolega ke biro kerja, untuk disalurkan ke tempat kerja. Misalnya jadi pembantu rumah tangga, tukang cuci, atau bekerja di karaoke.
WARGA:
Karaoke? Jadi teman tamu yang mau bernyanyi?
PEREMPUAN:
Ya, kira-kira begitu. Maukah?
Bagaimana mbak, gak usah sekarang jawabnya, kalau mau bisa datangi kantor kami di jalan Buntu depan POM Bensin.
WARGA:
Besar gajinya? Berapa kira-kira?
PEREMPUAN:
Biasanya pertama masuk digaji sesuai kesepakatan. Kalau sudah dua bulan baru ada perjanjian baru. Kalau kerja di karaoke, sistemnya dari honor kemudian gaji tetap. Dan ada fee biasanya kalau tamunya baik dan kita bisa memuaskan dalam melayani tamu yang menyewa room.
IMAH:
Ooo…
Mengangguk-angguk.
LELAKI:
Bagaimana mbakyu? Mau kerja.
IMAH:
Masih pikir-pikir, mas.
LELAKI:
Ya tak apa, bisa hubungi kantor kami kalau mau ya…
Hening
Seorang warga lain masuk. Perempuan muda dan cantik. Usianya diperkirakan 19 tahun. Gagal melanjutkan SMA. Satu-satunya warga yang ditinggal mati kedua orang tuanya. Berdiri di antara para warga yang layak dipanggil tante.
PEREMPUAN:
Mau kerja? Mana orang tuamu?
PEREMPUAN MUDA:
Memang tante bisa cariin kerja saya? Saya siap kerja apa saja. Yang penting bisa buat hidup saya.
Sejenak diam.
Kedua orang tua saya sudah meninggal. Terbakar hidup-hidup dalam rumah. Waktu kampung ini dibakar, entah siapa. Emak dan abah lagi tidur. Saya lagi di rumah kawan. Pas pulang rumah saya sudah habis terbakar. Tanpa sisa. Juga orang tua saya yang masih di kamar tidur.
SELURUH WARGA DAN KEDUA ORANG:
Oooo….
Ada yang mengucap: Inna lillahi wainna ilaihi roojiun…
PEREMPUAN:
Betul, kamu mau kerja?
PEREMPUAN MUDA:
Ya, tante. Sekarang pun saya siap.
IMAH:
Sudah kamu pikir, Dilla? Jangan sampai kamu nyesal nantinya…
PEREMPUAN MUDA:
Sudah, Tante. Dilla gak mau hidup menderita. Gak ada yang bisa Dilla harap di sini. Dilla sudah gak punya keluarga. Gak ada penghasilan. Dilla harus bekerja. Kerja apa saja.
WARGA:
Ya, Dilla, tapi kau pikir matang-matang. Bener kata Tante Imah. Supaya kamu menyesal. Penyesalan datangnya di belakang.
PEREMPUAN MUDA:
Sudah tante. Sejak tadi saya sudah denger percakapan tante-tante. Mala juga sudah kasih tahu saya. Saya dan Mala sudah bulat, keluar dari kampung ini. Mau kerja atau merantau.
MALA:
Tergesa-gesa berdiri di sebelah Dilla.
Ya, saya juga mau kerja. Sama Dilla. Ini saya bawa pakaian.
Ia menunjukkan tas ransel.
LELAKI:
Oke kalau begitu. Siap kerja apa saja ya?
Matanya memicing. Isyarat yang hanya bisa dipahami oleh orang dewasa.
MALA DAN DILA:
Siap om…
Setelah itu kedua pencari pekerja itu pergi. Membawa Mala dan Dilla.
Malam semakin larut. Pekat.
Out.
(5)
Fade-in – remang
Rumah-rumah kayu, tiang-tiang dari kayu terpancang di laut. Sebagian sudah roboh dan tergenang di permukaan air. Tinggal puing, dan sisa kepulan asap. Beberapa warga yang tersisa di sana, masih mengemas barang-barang yang sempat diselamatkan dari dalam rumah.
Mereka di sana sudah puluhan tahun, bahkan ada yang lebih dari tahun itu. Di sana mereka membangun rumah sederhana. Hanya berdinding kayu, atap dari seng. Di sana mereka berlindung dari matahari, dingin malam, dan tidur, atau istirahat.
PETUGAS:
Bapak-Bapak, Ibu-ibu, mas dan mbak… Segera tinggalkan kawasan ini. Sebentar lagi kami akan dipasang kawat, garis larangan untuk memasuki kawasan ini. Sejak saat ini, area ini menjadi kawasan larangan untuk umum.
WARGA:
Lalu untuk dijadikan apa kawasan ini? Kami berpuluh tahun tinggal di sini. Kami, selama tinggal di sini, bayar pajak. Bayar keamanan, bayar sampah. Kami juga bayar rekening listrik.
Banyak dari kami malah sudah ada Kartu Keluarga, KTP, dan….
PETUGAS:
Lupakan pak. Itu masa lalu. Kalau sekarang, sudah lain, kawasan ini sebagai milik negara, akan diubah sebagai bentuk pembangunan.
WARGA:
Apakah kami tak punya hak menetap di sini? Kami warga negara ini, dijamin tinggal dan hidup di sini. Kami bertahan di bumi negara ini, kami tak tergiur mencari kerja di luar negeri. Kami meyakini, lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang.
Walau di dalam hati kami yang terdalam, sesungguhnya hujan emas lebih baik daripada dihujani batu di dalam negeri. Tetapi, kami mencintai tanah-air-bangsa ini. Maka, hidup dan mati kami harus di sini.
PETUGAS:
Kami hanya menjalani tugas. Tidak bisa banyak berbuat. Kami diembani tanggung jawab untuk mengawasi dan mengamankan daerah ini.
WARGA:
Apakah kami menakutkan? Tampang kami bukan wajah kriminal, sebaliknya tampang sekelompok orang yang miskin. Bahkan, rumah pun kami menumpang di lahan negara. Tetapi, bukankah kami berhak menikmati juga?
PETUGAS:
Maaf pak, saya tak mau berdebat, saya tidak mampu. Saya hanya ditugaskan menjaga, dan itu harus kami lakukan. Maaf bapak, ibu…
(Sunyi).
Di bagian lain, sebagian warga masih sibuk. Mengangkut barang-barang yang masih diselamatkan. Wara-wiri. Mereka menyeruak asap.
WARGA:
Dari dulu negara selalu meribetkan warga. Kebun-kebun ditumpas dan dibakar. Lalu dijadikan jalan, atau pembangunan lain. Sejak dulu hingga kini. Rakyat diubek-ubek, tapi pemerintah makin menumpuk kaya. Ahhh… capek… capek
Warga lain sibuk mengumpulkan bekas-bekas rumah, seperti tiang, papan, dan lainnya. Lalu dikumpulkan jadi satu, masing-masing warga.
Imah masuk ke kerumunan warga. Matanya celingak-celinguk.
IMAH:
Saya cari bantal guling, tadi tertinggal di sini. Ada sedikit uang saya di dalam guling saya.
Masih celingak-celinguk.
WARGA:
Ketemu teh Imah?
IMAH:
Menggeleng.
Belum. Tadi rasanya tertinggal di sini. Duh….!
WARGA:
Teh Imah ingat, pasti di sini? Jangan-jangan masih di dalam rumah, namun Imah mengira sudah dibawa keluar.
IMAH:
Gak mas. Imah inget betul, ketinggalan di sini. Tadi ada kain buat selimut anak.
WARGA:
Tapi sejak tadi saya di sini, gak ada barang apa pun yang saya lihat…… Tapi, semoga ketemu ya Imah.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh. Dari dalam gang dekat laut.
WARGA III:
Habisi!
WARGA II:
Bakar!
Petugas KAMTIBUM lari ke luar. Menghindar dari buruan warga. Hampir menabrak Imah yang masih mencari guling berisi uangnya yang hilang.
WARGA:
Kejar! Anjing!
WARGA LAIN:
Kenapa kang Jo? Ada apa dengan petugas KAMTIBUM?
WARGA:
Dia mau curi uang di celengan punya Pak Marta. Tiga sekaligus.
WARGA II:
Untung Pak Marta melihat. Dia dipergok saat mau memecahkan celengan, uangnya mau diambil.
WARGA LAIN:
Tangkap, bakarrrr!
Lalu ia memburu petugas KAMTIBUM.
WARGA (PAK MARTA):
Untung saya lihat dia mau memecahkan tabungan saya. Itu punya saya satu-satunya yang bisa diselamatkan. Lainnya ludes terbakar. Eh, mau dia curi juga. Cari kesempatan dalam kerumitan warga.
IMAH:
Masya Allah… keterlaluan. Jangan-jangan….
WARGA:
Uang teh Imah dia yang ambil…
IMAH:
Diam
Baiklah mas, Imah permisi. Mau ke sana, mungkin saja masih tertinggal di depan rumah.
WARGA:
Semoga ketemu ya teh Imah
Kemudian warga itu turut memburu petugas yang hendak mencuri celengan pak Marta.
IMAH:
Aaamiin.
Imah melangkah dan menjauh. Menembus kegelapan malam.

Sayup-sayup teriakan, suara aduh, dan minta pertolongan: Tolooonnnggg.
Out.
(6)
Lighting – ke seluruh panggung
Kawasan yang baru saja digusur dan dibakar, layaknya daerah yang baru terkena tsunami, atau kota yang dibalikkan. Seperti zaman nabi Luth.
Hanya 3 sampai 5 warga yang masih di sana. Mereka belum mau meninggalkan bekas rumahnya yang telah jadi puing. Berantakan.
Mereka berjaga-jaga. Ada yang mengenakan kain sarung, topi kupluk, dan lainnya. Pos jaga sudah roboh. Listrik padam, mereka memakai petromaks dan lilin.
PETUGAS I:
Malam bapak-bapak. Kenapa belum juga tinggalkan kawasan ini. Itu sudah kami kelilingi pagar berduri. Line Polisi. Ini sudah jadi daerah terlarang.
WARGA I:
Kami tak akan meninggalkan daerah ini. Kami juga punya hak ada di sini. Waktu kami datangi daerah ini, kawasan ini tak bertuan. Maka kami tempati daerah ini, jadi kampung; kami bangun rumah. Kami bentuk ketua RT, ketua RK. Di sini juga sudah terbentuk pemerintahan. Sebagai warga negara, kami juga memberi hak suara saat pemilihan umum. Kurang apa kami sebagai warga negara yang baik?
PETUGAS I:
Saya tak berani menjawab soal itu. Maaf bapak-bapak.
PETUGAS II:
Kami hanya diberi tugas dari pimpinan kami ke sini. Meminta bapak-bapak agar keluar dari kampung. Sebab, besok pagi eskavator akan didatangi, untuk meratakan daerah ini. Kalau bapak-bapak mau ambil kayu-kayu bekas rumah sendiri, kami silakan. Kami tunggu sampai bapak-bapak selesai.
WARGA I:
Kami tidak mau ambil kayu-kayu itu. Walaupun dulu kami tak gratis mendapatkannya. Kami akan keluar dari sini, sekiranya kami diganti rugi. Kalau tidak, nyawa kami sudah kami gadaikan demi marwah sebagai warga negara.
PETUGAS II:
Waktu pemerintah menawarkan ganti rugi, bapak-bapak menolak.
WARGA II:
Bagaimana tidak kami tolak? Ganti rugi yang ditawarkan tak sesuai. Sekali makan langsung jadi taik!
WARGA I:
Kami tahu, daerah ini mau dibuat hotel, kawasan pasar modern, bahkan infonya mau dibikin juga kawasan perjudian bola tangkas. Kami sudah tahu semua. Sementara kami, rakyat sendiri, ditelantarkan. Dianiaya. Kami merasa dizalimi. Pemerintah tidak adil, kami mendapatkan ketidakadilan. pemerintah sangat kejam, zalim!
WARGA II:
Ya Allah, aku bermohon: kutuklah, jangan beri keberkahan bagi para pemimpin yang kejam, yang zalim, yang korup. Mata-Mu tak buta, Kau pasti melihat hamba-hamba-Mu ini. Kau Maha Mendengar, dan lebih tahu apa yang ada dalam hati kami. Kami menjerit, hati kami terkoyak-koyak. Karena penguasa yang zalim, rumah kami digusur, dibakar. Anak-anak kami terlantar, tidak lagi punya rumah. Anak-anak terancam tak lagi bisa menempuh pendidikan. Sebab buku, tas, pakaian seragam, sepatunya sudah ludes terbakar. Maka kabulkan permohonan kami, miskinkan para pemimpin. Tutuplah jalan kariernya.
WARGA II, DAN WARGA LAIN:
Aamiin.
PETUGAS:
Kami meminta bapak-bapak, segeralah tinggalkan tempat ini. Ini daerah tertutup bagi masyarakat umum.
WARGA II;
Jangan paksa kami agar pergi dari sini. Sekali lagi….
PETUGAS II:
Maksud bapak?
Matanya tajam. Merah.
WARGA I:
Diam! Bapak jangan sok di depan kami, jangan paksa kami keluar dari sini. Sebelum pemerintah sepakat agar memberi ganti rugi untuk kami. Bapak yang segera pergi dari sini, hayooooo!
PETUGAS II:
Silakan, kalau bapak mau pukul saya. Kami datang ke sini, karena tak takut. Sebab kami ditugaskan, tanggung jawab kami mengamankan daerah ini.
WARGA I, II, III, DAN LAINNYA:
Maju mendekat. Menggebah. Kedua petugas itu melawan. Salah satu petugas, memanggil rekannya yang lain.
Lalu terjadi kerusuhan di sana. Saling mempertahankan masing-masing. Pihak kepolisian juga sudah tiba, membawa senjata gas air mata. Petugas DAMKAR menyemprotkan air ke warga, yang sisa sedikit itu.
Black-out
*
Pergantian warna cahaya lampu
Imah masuk. Pakaian minim. Tak membawa anaknya. Ia tertawa-tawa, senyum-senyum. Terbahak, berteriak-teriak. Seperti tidak waras.
IMAH:
Mana anak Imah. Kalian yang bunuh. Ha ha ha. Kalian ini, ya kalian, yang juga bunuh Kang Warki. Imah sudah gak lagi punya suami. Gak ada lelaki yang mengelus, membelai, meniduri Imah. Imah jadi kesepian. He he he…
Eh, ini dia Kang Warki. (Imah menunjuk salah satu petugas).
Petugas itu ditarik-tarik oleh Imah. Ia peluk mesra. Ia bawa petugas itu ke pinggir, ke bagian gelap. Tetap ia peluk…
— Improvisasi. —
Kang, ayuk, Imah sudah kangen. Ayo, kita tidur. Cium Imah dulu dong. Imah mau dicium Kang Warki. Woy, kang, kok diem aja? Jangan-jangan Kang Warki sudah punya perempuan lain. Imah cemburu. Benar Kang Warki, sudah punya simpanan?
Kalau Imah tahu, Kang Warki akan Imah bunuh. Imah tak ikhlas kau Kang Warki punya perempuan lain. Imah nggak mau diduakan.
Lalu Imah mengacungkan pisau. Diambil dari balik bajunya.
Imah bunuh petugas itu.
Matilah…
Out.
*
Lampu menyala.
Imah sudah dibekuk. Tak berdaya. Tertekuk di tanah. Seorang petugas menguasai tubuh Imah. Seperti maling yang tertangkap. Kedua tangannya di belakang. Terdengar dengus Imah. Rintihan sakit.
IMAH:
Ha ha ha. Kang Warki, tolong, kenapa Imah dipukul. Kakang sudah gak sayang lagi Imah ya?
Aduh… Tolong kang. Cium Imah. Kita kawin lagi, yuk ke kamar lagi. Di luar sangat dingin.
Aduh… Tolong kang. Di luar sangat dingin. Mari masuk, ayo kita ke kamar.
Imah meratap. Wajahnya mendongak ke petugas. Satu persatu dipandangnya.
Ha ha ha… Asyik kan kang, persetubuhan kita kali ini? Kamu puas, ya Kang? Aku juga. Hi hi hi….
PETUGAS I:
Perempuan ini gila! Warga mana ini? Bapak-Bapak kenal dengan wanita edan ini? Dia harus segera dibawa ke eR-eS-Je!
KOMANDAN PETUGAS:
Segera bawa ke rumah sakit jiwa!! Tetap diborgol, nanti dia ngamuk di mobil.
PETUGAS II:
Kalau perempuan gila ini ngamuk, lemparkan saja. Repot amat.
WARGA:
Dia tidak gila. Tapi, kalian yang membuatnya gila. Dia Imah, namanya. Warga sini juga. Rumahnya ludes tak bersisa. Suaminya mati dibakar! Anaknya pun mati!
KOMANDAN PETUGAS:
Tidak dibakar. Tidak ada yang membakar. Jangan fitnah, kalau tak ada bukti anda dipenjara. Suaminya terbakar di dalam rumah. Salahnya tidak mau segera keluar. Salah dia mau mempertahankan harta bendanya. Kan cuma suaminya yang tewas.
WARGA:
Warki ingin mempertahankan hartanya, karena ia paham betapa sulitnya mengumpulkannya. Apa salah, dia menjaga miliknya yang dia kumpulkan bertahun-tahun? kalian saja yang tidak punya hati. Tak berperi kemanusiaan.
PETUGAS:
Diam kau. Jangan provokasi. Apa bapak mau kami angkut juga ke kantor?
WARGA:
Imah tidak gila, bapak.
PETUGAS:
Bawa dia ke kantor dulu. Kalau ternyata perempuan ini gila, rehabilitasi segera.
Semua diam. Sangat hening.
Terdengar suara anjing dari dalam puing-puing rumah. Melolong.
KOMANDAN:
Ada suara anjing, dari mana itu?
PETUGAS:
Seperti dari dalam puing rumah itu.
KOMANDAN:
Selamatkan, Jon! Kasihan kalau anjing itu mati.
PETUGAS III:
Siaaapp, Ndan!
Petugas itu secepatnya menuju puing-puing sebuah rumah. Laksana kilat menyambar, ditinggalkannya komandan dan rekan-rekannya.
Suara lolongan anjing menghilang.
WARGA:
Jangan bawa ke rumah sakit. Dia tidak gila. Hanya syok. Stress. Sebab suaminya tewas, anaknya juga meninggal. Semua ini karena ulah kalian. Sebab pemerintah yang menzalimi kami.
PETUGAS:
Salah apa kami? Kalian yang salah. Kalian mbalelo. Tetap bertahan di sini. Padahal, pemerintah sudah berkali-kali mengingatkan agar kawasan ini dikosongkan. Ini tanah milik negara. Dan demi pembangunan yang merata, kawasan ini mau dibangun perhotelan, pasar modern, dan lainnya.
Warga tak punya sertifikat kepemilikan tanah, juga hak membangun. Kalian warga liar di tempat yang dilindungi negara. Seharusnya kalian bersyukur, sudah bertahun-tahun menempati lahan ini. Tetapi, jangan diklaim sebagai tanah tak bertuan. Tuannya adalah pemerintah. Kapan pun mau digunakan, warga harus hengkang. Bahkan tanpa ganti rugi.
WARGA:
Kalau begitu, benar, kalian benar-benar tak punya perikemanusiaan. Kalian zalim. Kalian caplok kebahagiaan dari rakyat kecil.
PETUGAS:
Terserah. Anda mau bilang apa.
Saat ini juga kalian tinggalkan tempat ini. Subuh nanti eskavator akan tiba. Ayo segera. Kami juga mau istirahat. Sudah dua malam, kami tidak tidur.
WARGA:
Kalau kami tak mau hengkang?
PETUGAS:
Ingat, kami tak mau melakukan kekerasan. Kecuali diminta…
WARGA:
Maksud bapak?
PETUGAS:
Tafsir sendiri. Silakan kalian maknai yang saya ucapkan.
Saya bertanggung jawab setiap yang saya katakan, yang sudah saya keluarkan.
WARGA:
Gak usah pakai bahasa bunga-bunga. Kayak seniman saya sampean. Langsung saja, to the point.
PETUGAS:
Apa yang dikatakan kawan saya itu sudah benderang, silakan saja bapak-bapak kalau mau menafsir tafsir. Maknai saja.
WARGA:
Makin muter-muter sampeyan.
PETUGAS:
Kan bapak-bapak yang mulai.
Mata petugas keamanan itu menyala. Seperti ada api di bola matanya.
Sejumlah warga yang tersisa, tersulut emosi. Mereka maju dan merangsek. Bagai dirasuki iblis. Wajah-wajah warga menyeramkan. Untuk kesekian kali, petugas dan warga saling dorong. Saling pukul. Mobil DAMKAR menyemprotkan air/gas air mata.
Out.
*
Lampu menyala.
Gonggong anjing berisik. Warga dan petugas memburu lolongan anjing yang belum diketahui keberadaannya.
WARGA I:
Kayaknya anjing ngepet. Dari tadi dia mendekati rumah Wanto di sebelah pos ronda. Kan rumah Wanto sudah dua hari tak ditempati. Seperti tahu kalau kampung ini mau dibakar.
WARGA III:
Babi ngepet kali. Emang anjing ngepet?
WARGA IV:
Kalau babi ngepet, sudah biasa. Orang juga tahu. Kalau anjing kan gak ada yang curiga.
WARGA I:
Ya, kita aja selalu ingin berubah. Zaman aja bisa berubah, teknologi aja selalu membarui diri. Masak soal babi ngepet ke anjing ngepet gak bisa. Kan cuma ganti binatang.
WARGA I:
Ya, masak kita mau ikut campur dengan dunia gaib. Kalau ada babi ngepet, bisa aja ada anjing ngepet, domba ngepet, bahkan tikus ngepet. Intinya binatang yang disuruh mencuri uang, baik di dompet, dalam lemari, celengan, atau yang disimpan di bawah kasur.
Para ngepet itu tahu di mana uang orang disembunyikan. Mereka juga segera berganti wujud kalau diketahui manusia. Sama dengan kerja tuyul, anak kecil berkepala botak.
WARGA II:
Ah, tahayul aja kalian percaya. Ngomong yang gak punya bukti, tak pakai data. Tak ilmiah. Zaman modern ngomongnya soal ngepet dan tuyul. Sekarang sudah canggih. Sudah pakai korupsi, bobol rekening, bongkar ATM, gondol kotak amal masjid. Bahkan, nekat membegal orang yang pakai motor. Sudah gak zaman pakai tuyul dan babi ngepet.
WARGA IV:
Tapi, kenapa orang masih percaya dengan yang aneh-aneh. Ada orang yang gobloknya minta ampun, ikut penggandaan uang. Percaya daun bisa jadi duit. Ikut mancing uang dengan uang yang dimasukkan dalam kotak. Apa itu, namanya kotak ajaib. Kotak Pandora. Kan lucu…
WARGA LAIN:
Itu anjingnya, kejarrrr…..
Lalu mereka mengejar seekor anjing yang meninggalkan gonggongan. Lengking dan bergema.
Gaduh.
Improvisasi
Fad-out
(7)
Fade-in
WARGA II:
Masihkah kita bangga sebagai warga negara
di tanah yang sebetulnya tak merdeka
kita dibuat pilu, setiap lagu kebangsaan
dikumandangkan dari segala penjuru
setiap upacara senin ataupun ulang tahun kemerdekaan
Bangsa ini berhutang kepada para pahlawan
yang turut berjuang memerdekakan negara ini
tapi anak-anak cucunya telah berkhianat
Para pejabat korupsi, anggota dewan asyik di ruang dingin
Tak pernah dengar rakyat berkeluh kesah
Janji hanya waktu ingin dipilih
setelah jadi, asyik sendiri…
WARGA III:
Masihkah tak malu jadi warga negara
setiap waktu kita diperah
namun tak pernah sejahtera
Hutan-hutan dibabat
buat kantong-kantong pejabat
Tanah digali diambil isinya
Yang kaya penguasa dan pengusaha
WARGA II:
Laut ditancapkan tiang beton
dibuat gedung-gedung megah
Rakyat jadi sampah berton-ton
tak pernah mimpi hidup mewah
Rumah-rumah kami digusur dan dibakar
untuk dibangun gedung-gedung besar
Tapi bukan buat kami yang tempati
para tauke dari Cina yang kuasai
PARA WARGA:
Koor
jangan salahkan rakyat kalau lari
ke luar negeri
sebab di negeri sendiri hidup sengsara
cari pekerjaan susah, anak-anak pejabat yang bisa
para penguasa cuma siapkan anak-anaknya
untuk memegang estafet kekuasaan
sementara rakyat kecil, sekolah pun sulit
ruang-ruang pekerjaan jauh di langit
PETUGAS:
Kami tak punya kuasa
Kami juga orang suruhan
Apa perintah pemimpin di sana
kami laksanakan, meski hati luka
Kalau bisa dada ini dibelah
yang terlihat adalah luka luka
pasalnya kami juga rakyat
menghamba pada pejabat
PETUGAS:
Sebab inilah kerja kami
dari sini kami hidupi keluarga
sebelum nanti juga mati
dikubur sebagai orang papa
Kalau kami kasar pada warga
sebab tuntutan profesi
Bukan dari hati kami terdalam
karena hati kami tetap pualam

WARGA:
Rakyat hanya bisa berharap
doa kami buat penguasa
Ingatlah saat tak lagi menjabat
kalian akan kembali jadi warga
Barangkali akan meminta-minta
seperti kami saat ini
tapi, sakitnya tiada tara
jika tak ada yang memberi
WARGA:
Mari penguasa,
mari wakil rakyat
selalu ingat sebelum berkuasa
mengemis suara tanpa mengikat
Kami percayakan harapan
demi masa depan
hidup yang berkeadilan
keadilan tanpa pilih-tebang
WARGA:
Ingatlah bapak-bapak bangsa
di depan berikrar kemerdekaan
mereka tetap sahaja, hidupnya sederhana
meski besar sekali ancaman kematian
Bukan seperti penguasa masa kini
baru diangkat sumpah sudah korupsi
atau baru duduk di kursi kekuasaan
sudah mau curi anggaran
PETUGAS:
Langit tak selamanya kelam
di sana ada pula warna-warni
Tak semua penguasa itu kejam
ada juga masih punya nurani
WARGA:
Seindah-indah lautan
sehijau-hijau hutan belantara
Di laut luas tetap sunyi
masihkah ada harapan dari penguasa?
Tak
tak
tak
Tokek…
PETUGAS:
Setenang-tenang laut
di dalamnya ada gelombang
Tak pernah ada rasa takut
Dalam diri yang berjuang
WARGA:
Sekecil-kecil semut
Kalau terinjak
Ia lawan biarpun maut
Datang berwajah badak
Seperti anda semua…
Black-out
*
Fade-in
Para petugas mondar-mandir di area bekas kampung yang digusur dan dibakar. Mengawasi setiap sudut. Setiap yang mencurigai akan diburu. Sorot senter layaknya mata kucing. Berseliweran, berputar…
Para petugas saling bercakap-cakap. Tapi tak terdengar. Seperti bisik-bisik. Ditingkahi lagu-lagu dangdut dari telepon genggam. Seorang penyanyi berjoget beberapa petugas.
Suara-suara riuh dari para buruh yang tengah membersihkan area. Juga deru mesin eskavator.
Para petugas itu turut membantu memindahkan atau membawa bekas rumah yang hancur, mengangkut barang bekas atau rongsokan. Tanpa dialog.
— Improvisasi —
Masing-masing sibuk, saling respons. Tetapi, tidak bersentuhan satu sama lain. Musik tetap terdengar, sampai mengecil, dan hilang.
Out
(8)
Fade-in — fokus ke Imah
IMAH:
Imah mau bilang apa? Mau berbuat apa?
(berhenti sejenak untuk menyeka air matanya).
Mau protes, protes pada siapa? Imah tak tahu harus mengadu pada siapa?
(Sebentar kemudian ia menyeka keringat yang membasahi jidat anaknya).
Bahkan Imah juga tak bisa melakukan apa-apa, ketika gubuk Imah ini diruntuhkan. Cuma Kang Warki yang mau coba bertahan, tapi akibatnya, Kakang dianiaya. Kakang mati ditimpa kayu, tertimbun gubuk ini.
(Kata-kata Imah terputus-putus karena menahan isak. Tergambar di wajahnya ada penyesalan sekaligus dendam membara).
WARGA:
Tak ada lagi protes. Unjuk rasa dianggap dentuman dari mercon kecil. Sesaat mengejutkan, lalu dilupakan.
Biarpun pendemo masuk ke istana, merangsek gedung dewan, merusak fasilitas umum, bahkan menyandera pejabat dan anggota dewan. Kengerian itu cuma seperti tergigit semut, sesaat, kemudian tak terasa lagi.
WARGA:
Ya, ya…
Meski kita parani rumah pejabat
kita jarah hartanya yang terlihat
Lalu kita gotong sekerat-sekerat
sehari esok rumahnya sudah padat
Sebab rakyat tetap melarat
bagai ular melata
Yang tidak bisa menjilat
sepanjang hidup tetap jelata
PETUGAS:
Sebaiknya segera tinggalkan tempat ini
Sebelum habis kesabaran kami
Kami siram minyak, kami sulut api
Jadilah neraka lautan mati
Petugas itu menggerak-gerakkan pentungan yang selalu siaga di tangannya. Untuk menakut-nakuti masyarakat. Tapi warga bergeming. Tegak. Bagai pesilat yang siap kuda-kuda.
WARGA:
Sekali takut, selamanya akan menjadi penakut.
Dan, selama itu pula akan tertindas dan ditindas.
Maka bangunlah keberanian, padamkan ketakutan.
Ingatlah syair lagu “Indonesia Raya”, kata W.R. Supratman:
bangunlah jiwanya/bangunlah badannya…
Warga itu menyanyikan lirik lagu “Indonesia Raya” berdiri dalam posisi tegak dan menghormat seakan ada bendera merah putih.
Ya, yang perlu dibangun lebih dulu adalah jiwa.
Karena di dalam jiwa ada keberanian dan ketakutan,
ada harapan membangun juga ada keinginan menghancurkan.
Yang harus kita bangun adalah semangat buat maju,
kita bangun semangat untuk berani.
Keberanian melawan ketidakadilan dan semena-mena.
Setelah itu baru bangun badan; kekokohan
untuk menyingsing matahari,
menyurutkan laut, menembus badai.
Bukan seperti selama ini,
yang dibangun hanya fisik dan fisik.
Lupa pada jiwa — hati — dan peradaban yang luhur.
Lalu, seluruh petugas kembali masuk. Mondar-mandir. Ke segala penjuru. Seperti mengawasi setiap gerak warga. Mereka khawatir ada yang menyusup untuk menjadi provokator. Memantik api pemberontakan dari rakyat.
Sementara warga juga berjalan bolak-balik. Saling berpapasan, baik sesama warga maupun dengan petugas. Tetapi, tidak bersentuhan fisik. Tanpa dialog, tiada percakapan. Kecuali komat-kamit alias bercakap sesama mereka. Tangan dan kepala bergerak. Gestur mereka yang terlihat.
—- improvisasi —-
(9)
Lampu menyala. Warna-warni.
Pagar dan tanda “DILARANG MASUK, KAWASAN INI AKAN DIBANGUN” … “HANYA PETUGAS BOLEH MASUK KAWASAN INI”…”KAWASAN INI MILIK PEMKOT UNTUK PEMBANGUNAN” …. “TANAH MILIK NEGARA” … Dan lain-lain.
Lahan porak-poranda dengan lalu lalang kendaraan proyek, langit senja, muara laut dan kapal nelayan.
Di kawasan yang kini sudah kosong itu, banyak pedagang di depan pagar seng. Para penjual rokok, kopi, nasi kucing, warteg, sekoteng, pisang goreng, dan sejenisnya.
Mayoritas pedagang itu adalah perempuan. Para lelaki asyik ngobrol di kursi kayu yang disediakan.
Kesibukan di tempat itu ditunjukkan dengan mondar-mandir warga; suara obrolan, berkelompok-kelompok; gelas-gelas di meja, ada botol minuman, perempuan berpakaian seksi dan menor.
PENGUNJUNG I:
Bikin kopi kental tanpa gula.
PEMILIK WARUNG:
Pahit?
PENGUNJUNG I:
Ya, manisnya ada di mbak hehe
PEMILIK WARUNG I:
Ikut tersenyum. Menutup bibirnya dengan telapak tangan.
PENGUNJUNG II:
Ih manis deh adek senyumnya, lagi dong. Ada gingsul juga lesung pipi…
PEMILIK WARUNG I:
Ah, bisa aja…
Dua gelas kopi sudah di meja, ditambah gorengan (pisang, singkong, bakwan, tempe).
PENGUNJUNG I:
Bukan gingsul dan lesung pipi aja yang membuatmu manis. Tato di tanganmu juga…. Kapan buatnya?
PEMILIK WARUNG:
Ih jelek ini mah, gagal ini. Waktu SMA sama kawan. Ya masa remaja, biasalah mas…
PENGUNJUNG II:
Emang ada yang gak gagal?
PEMILIK WARUNG:
Ini…
Ia tarik lengan kaosnya, persis di antara baru sebuah tato yang sangat menarik.
Yang ini sih buat di tukang tato. Jadi bagus. Sama di paha dan punggungku.
PENGUNJUNG I:
Wah, pasti lebih bagus. Estetis dan puitis.
PEMILIK WARUNG:
Bisa aja mas mas ini. Tapi gak akan saya kasih lihat. Bahaya…. Hihihi
PENGUNJUNG II:
Bagaimana kami tahu kalau tato itu bagus, tanpa melihatnya?
PEMILIK WARUNG:
Diam. Mikir-mikir…
Yang di paha saya kasih lihat… yang di punggung buat suami. Hihi
Lalu ia tunjukkan tato di bagian paha atas.
PENGUNJUNG I DAN II:
Waw…
Terpana, terkesima. Matanya tak berkedip. Tetapi segera kaget, karena pemilik warung itu menutup pahanya kembali dengan cepat.
PENGUNJUNG I:
Duh, surganya pergi. Terbangun dari mimpi…
PEMILIK WARUNG:
Tertawa. Kemudian ia kembali menunjukkan tatonya di paha.
Cukup.
PENGUNJUNG I:
Surga…
PENGUNJUNG II:
Rasa strawberry…
PENGUNJUNG I DAN II:
Hahaha hahaha….
Lampu bergerak ke warung lain. Juga sama sibuk melayani tamu-tamunya: para lelaki. Buruh dan warga setempat.
TAMU I:
Kasih kopi pahit Mbak Winarsih…
WINARSIH:
YA, apa lagi, kang? Biasanya pisang goreng juga?
TAMU:
Yang lain nanti aja… eh, rokok sebungkus…
WINARSIH:
Rokok apa kang?
TAMU:
Biasa, kok lupa rokok saya sih Win? Jangan-jangan sudah ada ayang baru…. Hehehe…
WINARSIH:
Gak kok, kang. Siapa yang mau sama Win, jelek gini…
Winarsih menunjukkan wajahnya yang memang manis. Ia segera mengambil rokok yang dipesan pembeli. Ia keluar dari warung, mendekati. Saat menyerahkan sebungkus rokok, tangan Winarsih.
TAMU:
Eh, Win megangin tangan kakang….
Winarsih segera menarik tangannya.
WINARSIH:
Ih, siapa yang megang. Akang yang megang tangan saya, Win hanya mau kasih rokok. Tapi akang yang narik tangan saya…
Tamu dan Winarsih tersenyum. Lalu Winarsih kembali ke belakang warung. Menyeduh kopi, melayani yang lain. Menyorongkan gorengan, menyediakan makanan lain.
Suasana di daerah itu ramai. Kesibukan tampak sekali. Karena di sana juga menjadi tempat pertemuan. Seperti kedai-kedai yang juga dimanfaatkan perempuan malam (prostitusi). Saling tawar menawar.
Tampak kalender di dinding kedai. Ada pula layangan. Moncong ceret. Kopi sachet. Gulungan seng bekas.
PEREMPUAN:
Mbak Win, kopi ya…
WINARSIH:
Ya mbak…
PEREMPUAN:
Rokok juga, lupa…
TAMU LAIN:
Biar saya yang bayar mbak Win… berapa?
WINARSIH:
Ya mas, nanti kalau sudah bayar, saya hitung dulu.
PEREMPUAN:
Terima kasih ya mas, siapa namanya. Saya, Maya…
TAMU LAIN:
Arom, saya Aromi Simanasa. Namanya bagus sekali, Maya… Maya apa?
PEREMPUAN:
Maya Romantika…
TAMU LAIN:
Romantis?
PEREMPUAN:
Maya Romantika, mas.
(Matanya tertuju pada Arom. Seperti hendak menggoda)
Lagi ngapain mas di sini? Cari-cari angin malam ya?
(Tertawa). Hihihi
TAMU LAIN:
Lagi main aja, sambil nunggu Maya. Gak terganggu kan May?
PEREMPUAN:
Gak. Malah senang. Eh kok, sama, May juga lagi cari teman ngobrol. Eh, ada mas Arom. Terima kasih ya sudah bayarin minum dan rokok May ini.
TAMU LAIN:
Siap… Klop dong, sama-sama cari, sama-sama menunggu. Oke kan May?
PEREMPUAN:
Tos!
Sendiri aja ya mas?
TAMU:
Kan sama Maya….
PEREMPUAN:
Ke sininya sama kawan? Atau keluarga?
TAMU:
Oo… Sendiri kok. Kalau ke sini masak sama keluarga, wah berbahaya… hahaha
PEREMPUAN:
Yuk, mas… jalan ke sana yuk, katanya mau cari angin.
TAMU:
Oke
(Arom membayar seluruh yang dibeli termasuk untuk Maya. Kemudian keduanya pergi)
Gerobak musik masuk. Lagu Terajana dinyanyikan oleh pendangdut perempuan. Pakaian minim, berjoget dangdut.
Beberapa lagu dinyanyikan. Pengunjung ikut berdangdut. Berjoget. Ada yang menyumbang nyanyi, lalu memasukkan uang ke kotak yang disediakan. Ada pula yang turut saweran
Sampai dihentikan oleh petugas keamanan KAMTIBMAS yang mengawasi daerah itu. Sebab sudah melebihi waktu yang ditentukan bagi kawasan tersebut.
PETUGAS:
Stop Stop.
Bubar.
Sudah jam 1.
Sudah lewat dari pukul nol nol.
Bubar
WARGA:
Ah, ganggu kenikmatan…
Kemudian bubar.
Beberapa perempuan membawa tas (ransel), koper; berisi pakaian. Mereka ingin merantau ke kota atau ke luar negeri. Jadi TKW/TKI.
Blackout.***
Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan asal Lampung dan alumni Forum Puisi Indonesia 87 yang masih produktif sampai kini. Karya-karyanya dimuat Kompas, Horison, Suara Merdeka, Lampung Post, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Tanjungpinang Pos, Riau Pos, Padang Ekpres, Haluan, Bali Pos, Trans Sumatera, Kupas Tuntas, Poros Lampung, Lampung TV, Inilampung, Lampung Insider, Lontar, dan lain-lain.