Ketika kamu beranjak dari dudukmu dan berteriak, “Bodoh!”, rasanya musik dansa terdengar dekat. Musik itu berasal dari pulau di seberang, tetapi seakan pulau itu bergerak ke tepi perahu tempat kita terombang-ambing. Tubuhmu kurus menjulang. Aku menatap punggungmu. Punggung yang terbalut gaun putih tipis. Punggungmu laksana tebing tempat seseorang yang kamu soraki, “Bodoh!” itu pernah meninggalkan jejak-jejaknya. Ketika kamu masih berdiri di sana, berpegang pada satu tiang perahu, tak berkedip meski dia mengancam, pinggir gaunmu yang berenda melayang ringan tertiup angin. Ketika kamu tetap berdiri di sana, acuh tak acuh, rasanya aku dapat menghirup harum kue apel yang entah berembus dari mana. Rasanya mual yang sejak tadi membayangi perutku perlahan-lahan terangkat. Mabuk laut yang pekat seakan melenyap. Aku membatalkan niat terjun ke laut.
Dia mungkin akan melumatmu segera. Aku khawatir tubuhmu yang akan dilempar ke laut sebagai ganti. Aku tak ingin itu terjadi. Kamu menyingkir sambil menatap ke seberang, ke perahu berlayar kuning yang terombang-ambing. Ada dua perahu yang kini terombang-ambing. Perahu kita dan perahu dia. Dialah laki-laki berkacamata yang berdiri di perahu berlayar kuning. Dia memberi tatapan menuding seolah berseru, “Semua ini salahmu!” Dia pemimpin rombongan itu. Dan kamu, meski kamu tak menyatakan diri sebagai pemimpin regu, aku memasrahkan nasib padamu. Kamu menatap laki-laki berkacamata itu seakan mengeluarkan kembali mengucap, “Bodoh!” Namun yang terjadi seperti yang sudah-sudah. Kamu tak kuasa berdiri, terduduk lemas, tanganmu perlahan-lahan menuruni tiang perahu, dan akhirnya kamu duduk di tempat semula.
Aku bertanya-tanya, apakah setelah ini kamu akan tetap sama seperti sediakala baginya? Membiarkan dia menumpuk tubuhmu dengan pasir, menutupi seluruh tubuh kecuali wajahmu, lalu menabur pecahan karang di atas tubuhmu yang berpasir. Kamu menjadi sebuah makam atau kuburan? Kamu tidak menyukai kata “kuburan” karena menurutmu kata itu terdengar terlalu seram. Kamu menyukai menjadi sebuah makam untuknya dan pecahan karang itu sebagai bunga-bunga yang bertabur di atasnya. Kamu akan telentang seperti bangkai ikan, dan dia akan menumpuk pasir di sekeliling tubuhmu hingga sempurna menutupi. Wajahmu yang terbuka di tengah gundukan pasir akan menjadi objek fotonya. Dia pemandu barbar, tetapi juga fotografer andal.
Selama berada di pulau ini, dia hanya akan menghampirimu ketika rombongan yang dia pandu memisahkan diri. Rombongan berpencar-pencar sesuai dengan instruksinya. Dia akan mengarahkan siapa bertugas mengambil sampel, siapa memotong bagian daun dan batang mangrove, siapa membuat awetan, siapa mencatat, siapa mesti turun ke rawa-rawa merelakan diri ditelan lumpur. Dia sangat cekatan dan hanya bicara seperlunya. Anggota rombongan masuk menyuruk ke hutan. Bergerak ke dalam. Aku dan kamu sebaliknya, memilih bergerak ke luar. Terpisah dari rombongan. Kamu menunjukkan seringai nakal, menarik tanganku, berlari-lari di antara rimbun berduri dan mengarah ke satu daratan. Ada patok larangan di sana untuk tidak mendekati satu bagian yang dikatakan berbahaya. Kamu berjalan ke sana, pertama-tama mencelupkan sedikit sepatumu ke bagian pinggir daratan terlarang. Ada sensasi seperti ditarik, ucapmu. Tiba-tiba kamu benar-benar terisap ke dalam. Gumpalan lumpur membenami dirimu hingga dada. Aku berteriak, berusaha menggapai tanganmu. Aneh, meski kamu meminta pertolongan untuk segera ditarik dari sana, wajahmu tampak semringah, sekilas senyum membayang di sana. Aku takut kamu benar-benar lenyap ditelan lumpur. Meski dalam kepanikan, aku masih berlari-lari untuk mencari apa saja yang bisa menjadi perpanjangan tanganku: ranting, cabang pohon, patok kayu, atau apa pun untuk membuat tanganku menjadi lebih panjang demi mengeluarkanmu dari sana. Namun sebelum aku menolong, kamu sudah keluar dari lubang, berdiri di tepi dengan balutan lumpur meleleh di sekujur tubuhmu. Dia ada di sana! Entah sejak kapan dia menolongmu keluar dari lubang. Dia menyemburku dengan serapah karena telah membiarkanmu terisap lumpur. Kamu tidak mengatakan apa-apa untuk membelaku. Aku sangat sedih. Aku menatap bingung melihatmu membiarkan dia menyeretmu segera dari tempat itu.
Malam, ketika berada di tenda, kamu tidur telentang di sampingku. Rambutmu beraroma buah, tubuhmu juga beraroma sama. Kamu sudah mandi, membersihkan seluruh jejak yang tertinggal dari kubangan lumpur. Kamu mengucapkan maaf. Aku seperti biasa selalu memaafkanmu karena aku hanya berkawan dengan diriku sendiri, dan kamu selama ini sudah merelakan diri jadi pintu pertama yang menghubungkanku dengan dunia luar. Kamu lalu bercerita tentang ciuman dia. Dia menyeretmu dari tempat itu, membawamu ke tengah semak berduri, lalu menciummu di sana. Ciuman kasar yang berpadu dengan duri-duri tanaman menusuk-nusuk kulitmu. Ciuman itu tak hanya menyengat bibir, tetapi seperti menusuk sekujur tubuhmu.
“Ciumannya berbau khas aromatik. Sedikit manis, sedikit pahit,” ucapmu sambil menyentuhkan satu jari telunjuk ke atas bibirmu.
Aku memandangmu dari samping. “Mungkin itu karena kayu manis,” ujarku perlahan menjawab kebingunganmu. “Aku sering melihatnya memasukkan potongan kayu manis ke dalam seduhan kopinya. Dia sering menyeduh kopi dekat api unggun. Apakah ciumannya juga berbau kopi?”
Kamu mengangguk, lalu tertawa cekikikan. Aku menguakkan pinggir terpal tenda. Angin malam dengan cepat mengurapi wajah kita. Kamu kedinginan. Ombak terdengar menenun suara-suara. Seperti suara yang memanggil dari masa lalu.
Kamu bertanya, apakah aku ingat ketika Ayah mengajak kita pergi piknik ke pantai? Dia boncengkan kita dengan motor Yamaha yang berknalpot bising dan mengeluarkan bergumpal-gumpal asap. Kita mesti sesekali turun dari motor untuk membantu Ayah mendorong motor yang kerap berhenti di tengah jalan, di tengah aspal panas.
Aku mengangguk tanpa suara. Kamu katakan sangat merindukan Ayah. Lalu kamu menangis dengan suara tertahan. Barangkali kamu takut dia akan mendengar suara kita. Hanya tenda kita yang lampunya masih menyala. Terdengar gemuruh ombak bergulung-gulung. Kamu tidak perlu khawatir dia akan mendengar obrolan kita sebab suara ombak akan meredam percakapan ini. Kamu pelan-pelan mengatupkan matamu. Aku memandangmu lebih dekat sambil menopang kepalaku dengan satu tangan. Aku menundukkan wajah di atas wajahmu. Aku melihat air matamu mengalir.
Kamu selalu menangis sebelum tidur. Kamu sudah tidak tahan, ingin menuntut pengakuan. Kamu ingin dia mengakuimu sebagai kekasih di hadapan murid-murid perempuan yang selalu memujanya. Kamu ingin menuntut balas sebab kamu telah bersedia menjadi sebuah makam, menerima ciuman kayu manis, dan merelakan tubuhmu menjadi tebing, tempat dia memanjat, mengukir cakaran, memahat cengkeraman dengan kuku-kuku kasar. Menimbulkan memar-memar hitam tersebar seperti bercak. Aku membantumu mengangkat bagian belakang gaun tidurmu dan memandang ngeri bercak-bercak itu. Aku menaburkan bedak bayi di atasnya. Kamu meringis kesakitan. Kamu berkata dia juga sebenarnya menyimpan kesakitan, hanya dalam bentuk “sakit” yang berbeda, sakit yang gelap dan dalam, seperti lubang pengisap penuh lumpur.
“Besok kita akan berkunjung ke pulau yang ada penangkaran penyunya,” ucapmu sambil mengusap air matamu.
Aku bertanya mengapa kita tidak pergi ke pulau satunya lagi yang selalu diceritakan Ayah, pulau dengan musik dansa dan kue apel. Katamu itu ada di pulau sebelahnya lagi. Kita tidak mungkin ke pulau itu karena tujuan kita adalah studi tur. Bukan untuk berdansa dan bersenang-senang. Ada tiga pulau yang berderet di wilayah pesisir ini. Di pulau yang sering Ayah ceritakan, pulau itu tampak jauh lebih seperti kota besar dibandingkan dua pulau lain tempat kita berkemah dan tempat penangkaran penyu berada. Di dua pulau terakhir ini, peneliti, mahasiswa, dan pencinta alam sering berkunjung karena dua pulau ini masih alami. Masih banyak menyimpan keajaiban alam.
Jadi kita hanya mengunjungi dua pulau, tidak ke pulau satu lagi yang sering Ayah ceritakan. Kata Ayah di sana tempat Ibu bekerja. Ayah mengatakan Ibu bekerja sebagai koki restoran. Namun lain waktu aku mendengar ada tetangga kami mengatakan Ibu bekerja sebagai “wanita penghibur” di pulau itu. Waktu itu kamu sangat marah. Kamu menutup telingaku agar tidak mendengar lagi ocehan tetangga itu. Apalagi ketika tetangga itu mengatakan aku anak yang punya “kelainan”, dan lebih “bodoh” dibandingkan anak-anak seusiaku.
Aku sering kali mendengar kata “bodoh” diucapkan untukku. Atau kata-kata lain yang bermakna tak jauh beda, seperti dungu, punya kelainan, miring. Kata mereka kamu adalah kakak yang malang karena harus merawat adik yang “punya kelainan”. Pada saat perahu kita terombang-ambing, aku mendengar kamu berseru, “Bodoh!” Namun aku sangat yakin seruan itu bukan kamu tujukan buatku.
Gelombang tinggi menghantam di kedua sisi perahu, membuat murid-murid berteriak. Wajah mereka tak berdaya. Sangat lemas. Kamu meminta juru mudi memutar kembali perahu motor ini ke pulau tempat kita berkemah. Batalkan saja studi tur ke pulau tempat penangkaran penyu itu! Namun di perahu satunya lagi, laki-laki berkacamata itu tetap memerintah rombongan melaju. Sebab ada sejumlah perbekalan makan siang yang sudah dipesan untuk semua rombongan di sana. Dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk itu dan biaya sarana lain. Tidak mungkin dibatalkan, dia bersikeras. Juru mudi lebih bersepakat denganmu sebab perahu tak akan bisa ditambatkan. Gelombang begitu tinggi.
Hanya sedikit tersisa tenaga untuk membuka mata dengan lebar dan melihat perundingan yang berlangsung. Tak ada kesepakatan apakah kembali atau tetap melaju. Mereka terus berdebat. Sementara ombak terus mengganas. Kami akan mati di laut! Terdengar rintihan murid-murid. Pada saat itulah aku mendengarmu berseru, “Bodoh!” Kamu memaki laki-laki berkacamata itu. Kamu memaki dia, si pemberi ciuman kayu manis. Aku tak tahu dari mana kamu tiba-tiba mendapat keberanian itu. Apakah karena semalam kamu mengatakan merindukan Ayah dan kini cintamu telah kamu kembalikan ke tempat semula, bukan lagi ke sebuah lubang pengisap penuh lumpur. Aku tak kuasa berdiri untuk membelamu. Kamu jauh lebih kuat mengadang mabuk laut ketimbang aku. Sekelilingku terasa berat dan terus memberat. Mataku berkunang-kunang.
Samar-samar, punggung kurus dan gaun putih melintas sesekali di mataku yang menyipit. Sayup-sayup, terdengar musik yang pernah Ibu dengarkan di rumah kita ketika menyempatkan diri pulang, membanting pintu kamar, dan tak pernah keluar meski aku dan kamu berkali-kali mengetuk-ngetuk pintu. Musik menggelegar dari dalam kamarnya. Ayah hanya memandang dengan pilu dan berkata, “Ibumu sedang mendengarkan musik dansa. Biarkan dia beristirahat.” Angin laut kala itu seakan membawa harum kue apel buatan Ayah yang pernah ia buatkan untuk kita ketika kamu dan aku merayakan ulang tahun bersama.
Bertahun-tahun kemudian —_ semoga ingatanku tidak salah — bila mengingat lagi peristiwa ketika kamu berani menghardik laki-laki berkacamata itu, aku yakin itu dipicu oleh sebab dia yang lebih dulu memakiku bodoh. Kamu tak terima adikmu diperlakukan seperti itu. Kamu membelaku, selalu. Seperti yang sudah-sudah.
Kini kamu telah sempurna menjadi makam. Ini kunjunganku yang keberapa? Aku tidak ingat. Aku menabur bunga di atasmu. Tidurlah. Aku selalu mencintaimu. Kurasakan sesuatu menghangat di atas pipiku. Air mataku menitik.

Iin Farliani telah menerbitkan buku kumpulan cerita pendek Taman Itu Menghadap ke Laut (2019) dan kumpulan puisi Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi (2022). Sejak 2013 dia aktif berkegiatan sastra di Komunitas Akarpohon. Tahun 2022 diundang mengikuti dua festival sebagai emerging writer pada Makassar International Writers Festival (MIWF) dan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Dalam waktu dekat dia akan menerbitkan buku kumpulan cerita pendek kedua.