Lewati ke isi utama

Seperti Kobatsah

Seperti Kobatsah

Suatu kali, ada seorang lelaki yang tak pernah bisa mengingat mimpinya, seperti Kobatsah dari kisah Betaljemur Adamakna. Tak peduli seberapa jelas mimpinya terlihat sewaktu ia tidur, atau seberapa keras ia mengingat persis ketika terbangun, tak ada sedikit pun sisa-sisa mimpi itu. Hal itu membuat si lelaki merasa frustrasi.

“Bagaimana seseorang bisa hidup tanpa memiliki ingatan sedikit pun tentang mimpi-mimpinya?” Ia mengeluh pada suatu pagi.

Akhirnya, ketidakmampuan mengingat mimpi-mimpinya membuat si lelaki malas tidur. Ia minum kopi banyak-banyak agar tetap terjaga. Dan, itu membuat badannya lemas serta gemetar.

“Kau harus tidur,” kata teman si lelaki pada suatu hari.

“Apa gunanya tidur jika kau terbangun tanpa mengingat satu pun mimpimu?” si lelaki menjawab.

“Kadang kala,” sahut si teman, “aku bahkan tidur tanpa mengalami mimpi satu pun. Dan, aku baik-baik saja.”

“Tapi,” si lelaki membantah, “dalam tidurmu yang lain, kau masih bermimpi. Dan, kau bisa mengingatnya.”

“Ya,” jawab si teman. “Kadang kala itu memang terjadi.”

Si lelaki mendesah panjang. “Hidup tanpa bisa mengingat mimpi-mimpimu,” kata si lelaki kemudian, “sama saja dengan hidup tanpa mimpi. Benar-benar berat. Maksudku sebenarnya sederhana saja. Aku ingin jadi normal. Aku ingin sama seperti manusia kebanyakan. Tidur, bermimpi, dan bisa mengingat mimpiku. Dalam kondisi sepertiku, tidur menjadi sangat menyakitkan. Tidur dan terbangun tanpa sanggup mengingat sedikit pun mimpi seakan-akan mengingatkanku terus-menerus bahwa aku tidak normal.”

“Kau berlebihan,” si teman membalas pendek. “Kau terlihat sangat normal meski kau tidak bisa mengingat mimpi-mimpimu.”

“Kau memang tidak tahu,” kata si lelaki pelan. “Kau memang tidak tahu. Dan, karena itu kau tidak bisa berempati.”

Seperti Kobatsah dari kisah Betaljemur Adamakna, si lelaki kemudian memutuskan mengejar mimpi-mimpinya. Pada hari ketujuh tanpa tidur sedetik pun, dalam kondisi tubuh terasa begitu ringan hingga ia mengira akan segera melayang di udara, si lelaki berselancar di internet, mencari-cari informasi tentang sesuatu yang bisa membantu mengingat mimpi-mimpinya.

Ia menemukan banyak sekali iklan obat tidur.

Ia menemukan banyak sekali para penjual buku yang menawarkan kitab-kitab membaca mimpi.

Ia menemukan banyak sekali jasa-jasa tafsir mimpi.

Namun, tak ada satu pun yang bisa membantunya menemukan mimpi-mimpi yang hilang dari ingatannya tiap kali ia bangun dari tidur.

Akhirnya, si lelaki hanya bisa menangis. Ia menangis dan menangis. Ia menangis sampai benar-benar kecapekan. Dan, persis sebelum jatuh tertidur, ia mengancam Tuhan. “Jika aku memang masih tidak bisa mengingat mimpi-mimpiku, lebih baik aku mati saja, Tuhan.”

Si lelaki tidur nyenyak sekali. Tidur paling nyenyak yang pernah ia alami. Dan, dalam tidur nyenyak itu, si lelaki bermimpi. Dalam mimpi yang didominasi warna biru, si lelaki sedang berada di sebuah padang rumput yang indah. Sinar matahari terasa lembut memantul di permukaan kulitnya. Si lelaki berjalan bersama seorang perempuan dan seekor anjing pudel berwarna merah.

“Apa kau mencintaiku?” si perempuan dalam mimpi bertanya kepada si lelaki.

Dan, si lelaki menatap mata si perempuan dalam-dalam. Perempuan tercantik yang pernah si lelaki lihat. Mata si perempuan jernih dan dalam seperti danau dalam dongeng-dongeng yang si lelaki bayangkan. Rambut si perempuan hitam bergelombang seperti rambut para putri dalam dongeng-dongeng yang si lelaki bayangkan.

Si lelaki mengangguk. “Aku sangat mencintaimu,” katanya mantap.

“Selama-lamanya?” si perempuan kembali bertanya.

“Selama-lamanya,” si lelaki menjawab.

“Maukah kau hidup bersamaku?” si perempuan kembali bertanya.

“Tentu saja aku akan hidup bersamamu,” jawab si lelaki. “Selama-lamanya.”

Dan, si lelaki terbangun.

Untuk kali pertama, si lelaki mengingat mimpi-mimpinya. Dan, bukan sekadar mengingat, ia mengingat dengan sangat jelas. Ia ingat detail-detail padang rumput dalam mimpinya, hamparan rumput jepang dengan sedikit gerumbul alang-alang sebagai aksen yang bagus, dan beberapa jenis rumput berbunga yang ia tak tahu namanya. Ia ingat warna bibir si perempuan dalam mimpinya, model pakaian yang si perempuan kenakan, dan bahkan bau si perempuan.

Si lelaki menghirup napas dalam-dalam. Si lelaki merinding oleh perasaan bahagia.

“Akhirnya…,” ia mendesah panjang. Penuh kelegaan.

Si lelaki segera menelepon temannya dan menceritakan apa yang terjadi.

“Ah,” si teman bergumam di ujung sambungan. “Akhirnya masalahmu selesai.”

“Ya,” kata si lelaki. “Masalahku selesai. Aku punya mimpi kini. Oh, tidak. Lebih tepatnya, aku punya mimpi dan aku bisa mengingat mimpi itu sekarang. Aku merasa hidupku lebih berarti sekarang. Aku merasa normal, sangat normal.”

Namun, ternyata masalah belum selesai. Seharian itu, terdorong oleh perasaan girang lantaran berhasil mengingat mimpinya, si lelaki justru terus memikirkan si perempuan dalam mimpi itu.

“Aku seperti pernah melihatnya,” gumam si lelaki. “Tapi, di mana ya?”

Menjelang sore, si lelaki bersorak. “Eureka!” teriak si lelaki. “Aku tahu di mana aku melihat perempuan itu.”

Dan, si lelaki buru-buru mengetik nama seorang perempuan dalam mesin pencari Google. Di sanalah wajah perempuan itu muncul dalam puluhan ribu laman. Seorang bintang film terkenal.

Masalah bertambah lantaran mimpi yang serupa datang berturut-turut sampai tiga malam kemudian. Dan, si lelaki bisa mengingat dengan jelas mimpi-mimpi itu. Mengingat dengan sangat jelas hingga ketika terbangun, ia merasa masih berada dalam mimpi itu.

Sepanjang waktu itu, si lelaki terus-menerus kepikiran mimpi-mimpinya.

Lantas pada hari keempat, si lelaki sampai pada keputusan lain – keputusan yang sebenarnya tak berbeda dari keputusannya sebelumnya.

“Aku harus mengejar mimpiku,” gumamnya pada diri sendiri. “Begitulah cara manusia hidup. Terus-menerus mengejar mimpinya. Dan, untuk itulah mimpi diciptakan, yaitu dikejar. Ya, dikejar dan diwujudkan.”

Dalam rangka mengejar dan mewujudkan mimpinya, si lelaki menulis surat panjang kepada si perempuan dan mengirimkan melalui kotak surat akun Facebook si perempuan.

Si lelaki menghabiskan lebih dari delapan jam untuk memilih kata-kata yang cocok. Isi surat itu sederhana saja sebenarnya, sebuah ajakan berkenalan dengan pendahuluan yang penuh bunga-bunga.

Jari-jemari si lelaki bergetar ketika memencet tombol kirim di layar ponsel. Namun, ia berhasil melakukannya.

Si lelaki menunggu balasan dari si perempuan. Sehari, dua hari, tiga hari. Dan, selama itu, si lelaki dihajar gelisah yang tak kenal ampun. Ia mondar-mandir, merokok tak henti-henti, mendesah berulang-ulang, dan sama sekali tak bisa tidur.

Hampir tiap lima belas detik sekali ia mengecek kotak surat akun media sosial untuk memeriksa surat balasan yang ia tunggu-tunggu.

Namun, surat yang ia harap-harapkan itu tidak ada.

Pada hari keempat sejak ia mengirim surat, si lelaki memutuskan menulis surat lain.

“Mungkin suratku yang dulu tenggelam tertimbun pesan-pesan yang lain,” pikir si lelaki. “Bagaimanapun, ia selebritas terkenal. Pasti banyak yang mengirimi pesan.”

Si lelaki menghabiskan tiga jam untuk menulis surat kedua itu. Isinya tidak jauh berbeda dari surat pertama, tetapi dengan sejumlah suntingan yang membuat isi surat itu, menurut si lelaki, lebih sopan dan elegan.

Dan, si lelaki menunggu lagi. Menunggu dan menunggu balasan dari si perempuan.

Namun, tak ada. Seminggu sudah berlalu dan surat balasan itu masih tak ada.

Si lelaki kemudian menulis surat lain lagi. Sebuah suntingan dari surat keduanya dan menurut si lelaki adalah versi paling sempurna dari surat-surat sebelumnya.

“Suratku yang sebelumnya pasti tertumpuk pesan-pesan lain,” si lelaki berusaha menghibur diri sendiri. “Ia bintang film terkenal. Pasti banyak yang mengirimi pesan.”

Dan, si lelaki kembali menunggu. Menunggu dengan gelisah. Menunggu dengan merokok, mondar-mandir, beberapa kali jatuh tertidur, dan kembali memimpikan si perempuan yang membuatnya bertambah dan bertambah gelisah setiap kali. Si lelaki berulang kali mengecek kotak pesan, mengecek lagi, dan mengecek lagi, dan begitu seterusnya.

Namun, surat balasan itu tidak kunjung tiba.

Lantas pada suatu ketika, ia melihat si perempuan memosting foto-foto pernikahannya dengan seorang penyanyi laki-laki. Dalam foto-foto itu, si perempuan tampak tersenyum di sebuah padang rumput jepang, dengan sedikit gerumbul alang-alang di beberapa bagian, serta bunga-bunga rumput yang si lelaki itu tak ketahui jenisnya.

Si lelaki tak percaya apa yang ia lihat.

“Itu mimpiku,” si lelaki bergumam. “Itu mimpiku,” kini si lelaki berteriak.

Ia merasa dadanya sakit. Sakit sekali. Sakit paling sakit yang pernah ia rasakan.

“Aku tak ingin lagi bermimpi,” kata si lelaki beberapa saat kemudian, sewaktu ia menelepon temannya. “Ini terlalu menyakitkan,” tambahnya.

Si teman mendesah panjang di ujung sambungan.

“Kau tahu apa itu mimpi?” si teman bertanya dari ujung sambungan, “sesuatu yang tak apa meski tak terwujud.”

Lelaki itu menangis kini.

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), Cara Kerja Ingatan (novel, 2020), Sapi dan Hantu (kumpulan puisi, 2022), Cerita dari Brang Wetan (kumpulan cerpen, 2022), serta Peta Orang Mati (kumpulan cerpen, 2023). Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik 2019. Cara Kerja Ingatan merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Sapi dan Hantu juara III Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021 dan nomine buku pilihan Tempo 2022. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya 2019. Saat ini ia tinggal di Samarinda dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.
Back To Top
Theme Mode