Iguana
Ilustrasi: Bartolomeus Hadiman Dwisaputra, mahasiswa mahasiswa English Literature, Faculty of Language and Arts, Soegijapranata Catholic University.
Apakah kau kira jambul ini cendera mata ayam bekisar kepadaku yang teramat senang gembira berjemur? Tidakkah berkecambah kagummu kepadaku tatkala melihat betapa elok rupawan jubah mahardika ini aku kenakan? Sehingga kau pun kesudahannya acap pula gugup-gagap menjelaskan ragam warna tubuhku: hijau kecokelatan, hijau lumut, hijau terang, hijau kekuningan, cokelat karamel, atau keabu-abuan, dan mungkin warna-warna lain yang muncul atas kefanaan matamu memandangku. Jika matamu dua belaka (itu sebab kau acap keliru; padahal kau pun sebenarnya memiliki sebuah mata lagi serupaku—mata yang teramat sering tidak kau asah-asuh supaya tajam melampaui pisau), maka mata ketigaku bukan pula semata aksesori—yang membuatmu mengolok-olokku—akibat keterbatasanmu menemukan kedudukannya. Sungguh mata ini adalah rahasia—yang tentu aku rahasiakan pula letak tempatnya. Namun bila kau senyata gigih mencari, alangkah ringan percuma menemukannya. Mafhumkah kini kau akan tamsilku? 2024
Jangkrik

Bising suara ini, oh, maafkanlah ia yang acap mengganggu waktu istirahatmu. Akan tetapi, percayalah, sungguh ini semata lagu rindu belaka: rindu kami kepada kekasih yang teramat jauh—sekaligus dekat sejantung kami. Di tanah ini, serupa tempat-tempat yang penuh matahari dan angin, kami telah pula menjelma pangan berlimpah protein yang mudah belaka kau temukan di pasar-pasar tradisional. Pun, kau mestilah tahu bahwa kami tak lebih hanyalah penanda bagi lawakan yang tak mampu memecahkan tawa berair mata. Juga sering pula kami yang berisik ini menjadi ajang perjudian bagi mereka yang senang akan peruntungan. Itu sebab pada sebagian orang, kami selalu pula dianggap pembawa keberuntungan: bila kelabu jubah kami. Sedangkan hitam tanda datangnya penyakit, dan hijau, tentu saja harapan yang baik-baik. Untuk itu dengarkan baik-baik petuah ini: bila rindu terlampau sesak memenuhi—nyanyikanlah kidung rindu serupa kami, dan semoga kekasih mendengar jerit pilu suara hati. 2024
Teripang

Mentimun? Tentu bukan, meski selintas lalu ia teramat mirip. Mungkin itu sebab ia pun memiliki gelar mentimun laut. Senyata rajin ia mengelabui mata perenang serta penyelam, sampai-sampai ia sering pula disangka batu karang. Jika kulitmu terluka atau mungkin mulai tampak menua, alangkah berlimpah kaya raya ia akan kolagen yang penuh manfaat bagi tubuhmu. Ia juga sebenar berkah bagi kepiting, ikan, gurita, dan tentu saja bagimu yang telah bertahun-tahun dikurung mellitus yang rakus—oh, semoga pergi jauh si maniak gula itu dari tubuhmu. Tetapi, apa kau kira setakat itu belaka ia kuuritakan? Tolong pahamkan sejenak: bila aquariummu mahir menyaring, maka ia sebenar ahli meninting luas lautan. Sempadan lunak tubuhnya luhur benar mengisai senyawa-senyawa karbon yang lepas ditinggalkan ragam makhluk yang mengambang; mengendap dalam rimba asin air. Namun janganlah khalikah kau loba semata: membinasakannya demi timbunan harta, demi ambisi buana—yang sememang takkan pernah puas kau teguk; serupa meminum air lautan raya. 2024
Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatra Utara. Ia bekerja sebagai juru antar makanan di DapurIbuMataAngin, aktif sebagai salah satu fuqara di Amirat Sumatra Timur, dan menjadi fundraiser di Adhigana Fundraising. Puisi-puisinya kerap ditolak redaksi, sedangkan naskah kumpulan puisinya, “Pertanyaan yang Menyelinap”, masih menunggu terbit.