Jendela
aku ingin seperti jendela terbuka tak peduli, seperti pada angin yang datang & yang pergi
Segalanya Tak Bermakna

mungkin kau bosan kau ingin orang lain yang dapat mengerti kerumitanmu tapi hanya langit yang tak menutup matanya untukmu, bahkan jika kau tutup matamu tuk kali terakhir saat tidur, kau tahu segalanya tak bermakna
Mengapa Aku Peduli

di jalan kota ini aku ingin berjalan bersama diriku sendiri tanpa ketenaran atau keindahan yang dipamerkan aku berada dan hanya diriku sendiri tanpa sebuah lapangan seni tanpa rencana-rencana & acara tanpa seremonial atau diskusi hanya dengan pikiranku sendiri aku hidup menghidupi hidup dengan & dalam buku-buku yang asyik kubaca dengan suntuk & aku bertahan di sebuah ruang terberi begitu panjang tak cukup menemukan puisi & tak masuk daftar kenalan siapa pun & tak pernah benar-benar dikenal siapa pun keributan di luar kepala hingar bingar festival tak membuatku kehilangan atau merasa begitu kesepian & mengapa aku harus peduli? maukah kau berhenti berjalan & berkata padaku, kita tak sedang berada di sini selamanya kita akan ja(t)uh selalu menjauh, semakin ja(t)uh dari orang-orang kota dari bumi yang tak ditumbuhi puisi

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya tersiar di media daring dan cetak, seperti Tempo, Detik.com, Beritabaru.co, dll. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah, perancang sampul buku, serta penjual buku-buku lawas dan baru. Sekarang tinggal bersama keluarga di Yogyakarta. Saat ini tengah menyelesaikan novelet pertamanya dan sedang mengulik satu buku terjemahan. Sesekali ia melukis untuk kebutuhan pameran pada suatu hari mendatang. Buku kumpulan puisi berjudul Akar Hening di Kota Kering (2021) mengalami revisi total, buku kumpulan puisi keduanya segera terbit. Penulis bisa dihubungi melalui surel: afisaja043@gmail.com.