Kita terlalu sopan menghadap hidup yang urakan
bukankah kota-kota dilahirkan untuk membiaskan kebiasaan?
Bagaimana mengucapkan kata ‘tenang’ saat ruh dan tubuh
saling bergemuruh? Tapi kau harus yakin bahwa kita telah tiba di desa
Setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Kita akan membikin ayunan
di bawah tangan pohon yang dilupakan banyak orang
Pungut dan kumpulkan kertas-kertas yang pernah kita tulis
menciptakan entitas, tempat kita merayakan udara tanpa batas
Akan kita lapangkan hati dan pikiran bagi sekelompok burung
yang melintas, singgah, dan mati dimangsa cuaca
Memahami seberapa takut mereka hidup
seberapa berani mereka pergi.
Berlari, berlari. Sembari sunggingkan senyum dan tabah
di kedua lesung pipi.
Ya, anak-anak akan tumbuh dan merekah jika kita selalu
menyirami tanah dengan doa dan madah silsilah.
Mari kita kembali sebelum berangkat lagi
2023
Waktu Berdebu
Waktu berdebu
Sepasang mata batu
Benda dan cahaya bertabrakan
Pecah di jalan
di kantor
di pasar
di ruang-ruang persembahan
Tidak ada jalan kecuali untuk melupakan
Keberangkatan bukan bagian dari kepulangan
Rumah dibangun tanpa silsilah
Orang-orang tua melepas anaknya
yang ingin melupakan
Waktu berdebu.
Sepucuk mulut batu
Benda dan cahaya bertabrakan
Makan adalah pangkal dari kelaparan
Perkenalan menjadi jalan tikus
untuk merauk keuntungan
Jangan bergerak.
Tidur. Tidur. Tidur.
sebentar lagi tidak ada yang saling tahu.
Rindu cuma buku fiksi untuk mengisi
jam kencan.
Waktu berdebu.
Menjadi remaja adalah satu-satunya
cara mengenal nabi pertama.
Sebelum jangkar-jangkar saudagar
Kembali terlempar
Di pulau paling besar
2023
A. Musabbih, lahir di Tegal 1986. Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Buku puisinya Surat Sore Hari (Lotus, 2023) meraih Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2023, sedangkan buku puisi Sajadah Katulistiwa (Wadahkata, 2020) masuk nominasi Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021. Buku puisi lainnya Arsip Rindu (Prabu 21, 2021). Mengikuti sayembara menulis puisi dan meraih beberapa penghargaan; Juara I lomba cipta puisi Hari Kartini se-Jawa di Universitas Pancasakti Tegal 2020, juara II cipta puisi Festival Sastra Jawa Tengah 2019, Puisi Terbaik lomba menulis puisi nasional Leon Agusta Institute (Padang, 2014), juara II lomba cipta puisi nasional Batu Bedil Award (Lampung, 2011), juara II lomba cipta puisi Semarak Bulan Bahasa (UNTIRTA, Banten 2009), juara III lomba cipta puisi FLP Yogyakarta (Yogya, 2007), dan beberapa nominasi. Menulis puisi di beberapa antologi puisi bersama antara lain: Rajakelana (DNP 2022) Negeri Segala Umpama (Payakumbuh, 2021), Kebaya untuk Hj. Umayah (Tasikmalaya, 2021), Sebuah Anafora dari Gaza (Jakarta Puisi Helvy, 2021), Antologi Puisi ASEAN 3 (STAIN Purwokerto, 2020), Kartini Kesatria Pena (UPS Tegal, 2020), Suara Hati Guru di Masa Pandemi (Seni Buleleng Bali, 2020), Rantau, Dari Negeri Poci (Jakarta, 2020), Hikayat Secangkir Robusta (Lampung, 2018) Requiem Tiada Henti (STAIN Purwokerto, 2018), Kepada Toean Dekker (Lebak Banten, 2018), Cimanuk, Ketika Burung-burung Telah Pergi (Inderamayu, 2017), Sajak-sajak tentang Pindul (Yogyakarta, 2017), Negeri Awan, Dari Negeri Poci (Jakarta, 2017), Kopi 1.550 mdpl (Aceh, 2016), Negeri Laut, Dari Negeri Poci (Jakarta, 2015), Gang Guru (Yogyakarta, 2014), Ziarah Tembuni (KSI Award 2012), Pukau Kampung Semaka (Lampung, 2011), Puisi Menolak Lupa (STAIN Purwokerto, 2010). Puisi-puisi lainnya terbit di Sastramedia.com, Negerikertas.com., LP Maarif Jateng.com, Lampung Pos,Bali Pos, Minggu Pagi, Situseni.com., Majalah Kreativa, Pawara Dinamika UNY, dll.