Lewati ke isi utama

A. Musabbih

A. Musabbih

Merawat Tanah


Kita terlalu sopan menghadap hidup yang urakan
bukankah kota-kota dilahirkan untuk membiaskan kebiasaan?

Bagaimana mengucapkan kata ‘tenang’ saat ruh dan tubuh
saling bergemuruh? Tapi kau harus yakin bahwa kita telah tiba di desa

Setelah bertahun-tahun meninggalkannya. Kita akan membikin ayunan
di bawah tangan pohon yang dilupakan banyak orang

Pungut dan kumpulkan kertas-kertas yang pernah kita tulis
menciptakan entitas, tempat kita merayakan udara tanpa batas

Akan kita lapangkan hati dan pikiran bagi sekelompok burung
yang melintas, singgah, dan mati dimangsa cuaca

Memahami seberapa takut mereka hidup
seberapa berani mereka pergi.

Berlari, berlari. Sembari sunggingkan senyum dan tabah
di kedua lesung pipi.

Ya, anak-anak akan tumbuh dan merekah jika kita selalu
menyirami tanah dengan doa dan madah silsilah.

Mari kita kembali sebelum berangkat lagi


2023

Waktu Berdebu


Waktu berdebu 
Sepasang mata batu
Benda dan cahaya bertabrakan
Pecah  di jalan
di kantor
di pasar
di ruang-ruang persembahan
Tidak ada jalan kecuali untuk melupakan 
Keberangkatan bukan bagian dari kepulangan 
Rumah dibangun tanpa silsilah
Orang-orang tua melepas anaknya
yang ingin melupakan
 
Waktu berdebu. 
Sepucuk mulut batu
Benda dan cahaya bertabrakan
Makan adalah pangkal dari kelaparan
Perkenalan menjadi jalan tikus 
untuk merauk keuntungan 
Jangan bergerak. 
Tidur. Tidur. Tidur.
sebentar lagi tidak ada  yang saling tahu.
Rindu cuma buku fiksi untuk mengisi 
jam kencan. 

Waktu berdebu. 
Menjadi remaja adalah satu-satunya 
cara mengenal nabi pertama. 
Sebelum jangkar-jangkar saudagar 
Kembali terlempar
Di pulau paling besar

2023
Potret A. Musabbih dari cetakan Karas Nomor 9
A. Musabbih, lahir di Tegal 1986. Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta. Buku puisinya Surat Sore Hari (Lotus, 2023) meraih Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2023, sedangkan buku puisi Sajadah Katulistiwa (Wadahkata, 2020) masuk nominasi Penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021. Buku puisi lainnya Arsip Rindu (Prabu 21, 2021). Mengikuti sayembara menulis puisi dan meraih beberapa penghargaan; Juara I lomba cipta puisi Hari Kartini se-Jawa di Universitas Pancasakti Tegal 2020, juara II cipta puisi Festival Sastra Jawa Tengah 2019, Puisi Terbaik lomba menulis puisi nasional Leon Agusta Institute (Padang, 2014), juara II lomba cipta puisi nasional Batu Bedil Award (Lampung, 2011), juara II lomba cipta puisi Semarak Bulan Bahasa (UNTIRTA, Banten 2009), juara III lomba cipta puisi FLP Yogyakarta (Yogya, 2007), dan beberapa nominasi. Menulis puisi di beberapa antologi puisi bersama antara lain: Rajakelana (DNP 2022) Negeri  Segala Umpama (Payakumbuh, 2021), Kebaya untuk  Hj. Umayah (Tasikmalaya, 2021), Sebuah Anafora  dari Gaza (Jakarta Puisi Helvy, 2021), Antologi  Puisi ASEAN 3 (STAIN Purwokerto, 2020), Kartini Kesatria Pena (UPS Tegal, 2020), Suara Hati  Guru di Masa Pandemi (Seni Buleleng Bali, 2020), Rantau, Dari Negeri Poci (Jakarta, 2020), Hikayat  Secangkir Robusta (Lampung, 2018) Requiem Tiada  Henti (STAIN Purwokerto, 2018), Kepada Toean  Dekker (Lebak Banten, 2018), Cimanuk, Ketika Burung-burung Telah Pergi (Inderamayu, 2017), Sajak-sajak tentang Pindul (Yogyakarta, 2017), Negeri Awan, Dari Negeri Poci (Jakarta, 2017), Kopi  1.550 mdpl (Aceh, 2016), Negeri Laut, Dari Negeri  Poci (Jakarta, 2015), Gang Guru (Yogyakarta, 2014), Ziarah Tembuni (KSI Award 2012), Pukau  Kampung Semaka (Lampung, 2011), Puisi Menolak  Lupa (STAIN Purwokerto, 2010). Puisi-puisi lainnya terbit di Sastramedia.com, Negerikertas. com., LP Maarif Jateng.com, Lampung Pos, Bali Pos,  Minggu Pagi, Situseni.com., Majalah Kreativa, Pawara  Dinamika UNY, dll.
Back To Top
Theme Mode