TEDHAK SITEN*

O, anak adam Aku ibumu, aku tanahmu Akulah tempat kau berjalan Untuk kuantar kau ke penjuru dunia Lalu kembali pulang ke rumah O, anak adam Aku ibumu, aku gurumu Akulah yang menuntunmu sedari goyah Demi kau tegak menjejak tanah Sampai tidur tenang di dalamnya O, anak adam Aku ibumu, aku rumahmu Akulah yang melindungimu Sejak kau belum tahu bahaya Hingga kau mengenal dan berusaha lari darinya O, anak adam Aku ibumu, aku pelayanmu Kubesarkan kau sepenuh jiwa Tanpa peduli kau balas dengan apa Atau kau perlakukan bagaimana O, anak adam Aku ibumu, aku pelukismu Kulukis kau sepenuh hati Dengan berkali tangan patah Dengan berkali hati retak O, anak adam Aku ibumu, aku pijakanmu Meski kau injak setiap hari Atau melupa di mana kau berada Tetap kutinggikan kau seumur hidupmu O, anak adam Pernahkah kau merasa tak memiliki ibu? Terlunta-lunta meski cukup makan Seolah dunia bukanlah tempat tepat Lalu kau ingin kembali ke rahim cinta O, anak adam Jika dalam kepalamu ada deras yang bermuara dari dada Hilirkanlah ke rumah bunda Yang seluas samudera Yang semua ombak akan reda ke pantainya *Upacara menyambut si anak turun ke tanah Jepara, 2019.
NGAPATI*

Hari ini kelok arus nasibmu kami doakan menuju hilir yang baik Dengan empat rupa lauk jadi bekal menemani nasi Tamu undangan pun sibuk menghayati Nasib yang sudah dan akan dijalani Samar-samar lalu saling mengamini Nasibmu dan nasib kami sendiri Setelah pulang kami berharap orang-orang kenyang dalam bahagia melupakan nasib yang samar-samar pula Supaya lebih keras lagi berusaha Tak peduli berapa kali berputar layar Untuk sampai ke pulau tujuan Kau mulai bisa mencium aroma kami dalam empat bulan umurmu Di matamu kami kelebat bayang di balik kelambu Nadimu sejantung denyut cintaku Kau sambut dan terima dalam temaram kamar Hingga kau kunamai separuh jiwa yang ikut merasakan apa yang kami rasakan Meski tumbuh di dalam benteng kokoh kami Kau adalah sempalan nasib kami yang memilih jalan sendiri Dan kini kami mintakan garis lukis Untukmu dan kami Seraya merenungkan samar-samar nasib sendiri Dalam doa nan hening mengangkasa sunyi *Selamatan empat bulan janin dalam kandungan Demak, 2019.

Adi Zamzam kelahiran Jepara, 1 Januari 1982. Puisinya pernah dimuat di Kompas, Media Indonesia, Republika, hingga Pikiran Rakyat. Ia juga menulis resensi buku di Jawa Pos, Koran Tempo, dan sejumlah media online. Bersama kawan-kawan, saat ini sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan ‘Akademi Menulis Jepara’.