KASIDAH KERETA DI UJUNG MALAM
Dari kejauhan sayup-sayup terdengar peluit kereta dibunyikan
Di ujung malam. Segala keluh kesah telah didedahkan ke dalam
Sebuah wadah bernama kepasrahan. Tapi tetap ada yang tertinggal
Kenangan kelam mengental dan tak bisa dihilangkan begitu saja
Sementara itu, ada yang terseok-seok menyeret penuh keterpaksaan
Langkah terburu-buru menempuh perjalanan. Padahal sudah tak ada
Jadwal kereta untuk keberangkatan, karena semua karcis telah habis
Diborong orang yang hidupnya hanya memuaskan nafsu kekuasaan
Adapun, waktu terus melaju dan tak seorang pun dapat menghentikannya
Seperti usia yang terus menua. Juga rambut yang mulai banyak beruban
Sebagai sebuah pengingat tentang hidup yang begitu sangat singkat
Tak ada kata terlambat, meski kita telah menautkan semua impian dan harapan
Karena masa depan tak dapat ditebak dimana kita dapat meraih kegemilangan
Kita adalah manusia yang terus berusaha untuk tak melakukan hal yang sia-sia
Dukuh Karangjati, Munjung Agung, Kramat-Tegal, 2021
Akhmad Sekhu lahir 27 Mei 1971 di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah. Kini bekerja sebagai wartawan di Jakarta. Menulis puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film, telaah tentang televisi di berbagai media massa daerah maupun pusat. Memenangkan Lomba Cipta Puisi Perguruan Tinggi se-Yogyakarta (1999). Puisinya telah tersebar di berbagai buku antologi bersama. Buku puisi tunggalnya; Penyeberangan ke Masa Depan (1997), Cakrawala Menjelang (2000), “Golden Scene” (manuskrip). Kumpulan cerpen “Semangat Orang-orang Jempolan” (manuskrip). Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021).