Menerka yang Nyata

Menerka yang Nyata

Aku hitung tiap butir kemiri yang masuk ke ulekan. Enam. Artinya, kuah santan untuk opor ayam yang kubuat akan kental. Persis selera Mak. Aku membayangkan wajah Mak akan semringah, saat nanti menyantap nasi hangat yang lengket dengan kuah santan.

Mas Lam, suamiku, selalu mengerti dan maklum. Setiap Sabtu, aku pasti masak buat kukirim ke Mak. Jadi opor spesial hari Sabtu selalu berkuah kental. Berlawanan dari kuah encer kesukaan Mas Lam.

“Yakin pakai kemiri sebanyak ini, Bu? Bapak kan enggak suka kuah kental,” ucap Arjun. Anakku itu sangat jeli soal bumbu.

“Kan ini Sabtu, Jun. Masakan ini bukan cuma buat Bapak….” Belum selesai ucapanku, tiba-tiba bayangan wajah Mak di kepalaku lenyap. Ucapan Arjun barusan membuatku sadar. Ingatan berkelebat menjadi angin lisus yang menggulung awan cerah senyum Mak. Kepalaku sekarang penuh awan gelap. Tebal dan makin tebal. Sampai tanpa sadar gerimis turun dari mataku.

***

“Lam, sudahlah, biarkan saja. Cum sangat dekat dengan Mak. Mungkin dia belum siap.”

“Tapi, Yu, sudah hampir tujuh hari, dia masih enggak mau bantu-bantu di sana.”

“Kita enggak perlu Cum bantu-bantu kok. Semua aman. Yang penting Cum segera sembuh.”

“Cum sudah mending, Yu. Cuma masih sering linglung.”

Di tengah lamunanku, percakapan Mas Lam dan Yu Tip itu terdengar jelas. Mungkin mereka mengira aku sedang terlelap. Sampai-sampai begitu mengalir membicarakan itu di ruang sebelah yang cuma tersekat dinding.

“Ya sudah. Pokoknya kalau dia belum sembuh benar, enggak usah kamu paksa ke sana, Lam.”

Ucapan Yu Tip, saudaraku, terdengar bergetar. Ada rasa khawatir lekat dalam suara itu. Lalu tak terdengar lagi. Bunyi yang datang kemudian adalah gemerincing gantungan kelambu yang dibuka Mas Lam.

“Lo, enggak tidur?”

Aku menggeleng lemas.

“Pasti tadi dengar omonganku sama Yu Tip,” ucap Mas Lam makin lirih. Ia agak menunduk.

Diam menjadi jawabanku. Aku tak tahu harus berkata apa. Pikiranku bahkan tak bisa menerka mana yang nyata. Kemarin sore, aku masih menyuapi Mak di rumah sakit. Namun pagi ini aku mendengar hal berbeda dari Mas Lam dan Yu Tip.

“Kenapa sih kamu enggak mau ke rumah Mak?” tanya Mas Lam halus, meski kulihat ada rasa kesal yang ia tahan.

“Aku malu ketemu Mak,” jawabku.

Mas Lam mendengus. Terdiam sejenak.

“Cum, nanti malam sudah tujuh harian Mak. Ikhlas, Cum. Ikhlas,” sahutnya.

Tangan Mas Lam memegangi pundakku. Sangat erat. Hangat. Aku bisa merasakan rasa sayang mengalir dari tangannya. Lalu aku menatap wajahnya. Mas Lam muram. Ia mendekatkan diri. Bisa kurasakan embus napasnya yang berat. Semua terasa dekat. Aku yakin momen ini nyata.

Tapi….

***

“Mak memang pendengar yang baik. Aku selalu bisa lega setelah cerita ke njenengan1, Mak.”

Mak tersenyum lebar, padahal ia sedang terbaring lemas. Bahkan dalam kondisi sakit, ia masih mau mendengarkan curhatanku soal bermacam-macam urusan.

“Mak juga senang punya anak kayak kamu, Cum. Temen-teman ngobrol seumuran Mak sudah meninggal semua. Temen Mak sekarang cuma kamu, Cum. Kamu mau kan nemenin Mak terus?”

Jantungku berdebar kencang mendengar ucapan Mak. Ia yang sedang sakit parah minta ditemani terus. Apa maksudnya? Bisa kurasakan dahiku mengerut, tak kuasa mencerna kebingungan.

Tiba-tiba, tubuh Mak kejang-kejang. Hampir aku panik dan berteriak minta tolong. Namun aku sontak memeluknya. Mungkin karena kebiasaanku menangani orang-orang sakaratul maut. Di kedua tanganku yang melingkar, aku bisa merasakan hangat tubuh Mak perlahan hilang. Aku paham betul, nyawa Mak sudah berada di ujung.

Sigap, aku memandu Mak mengucap, “Lailahaillallah.” Namun sayup aku mendengar suara Mak mengatakan hal lain.

“Ikut aku, Cum.”

Mataku terbelalak. Benakku baru selesai mencerna maksud Mak. Ia benar-benar minta ditemani. Perlahan tanganku mulai tak terasa lagi. Dingin di tubuh Mak merambat padaku. Aku paksa menarik diri. Aku belum mau mati. Namun aku juga tak rela kehilangan Mak.

Pikiranku kacau. Di tengah persimpangan itu, telingaku seperti dua kali lebih peka. Aku bisa mendengar degup jantungku. Aku bisa mendengar napas Mak yang makin lirih. Aku bisa mendengar suara Arjun yang memanggil-manggil.

Aku memang tak siap kehilangan Mak, tetapi aku tak tega meninggalkan Arjun dan Mas Lam. Kini, suara Mas Lam juga kudengar memanggil-manggil. Dua orang itu seperti menarik jiwaku ke arah berbeda. Mereka dan Mak berebut. Kurasakan napasku makin berat. Tubuhku seperti diguncang sesuatu.

Tiba-tiba senyap. Perlahan buram di mataku tersingkap. Aku bisa melihat muka Arjun yang khawatir dan wajah Mas Lam yang marah.

“Sore-sore kok ngelindur,” ucap Mas Lam bersungut-sungut.

“Ambil napas, Bu. Barusan Ibu tidur tengkurap,” imbuh Arjun.

Ucapan Mas Lam dan Arjun sangat jelas. Sangat nyata. Namun apa yang kurasakan barusan juga terasa sangat nyata. Aku seperti benar-benar ditarik ke dua arah. Dan, mereka berdua mengambilku dari Mak.

“Mimpi apa, Bu?” tanya Arjun. Ia kelihatan makin cemas.

“Mak meninggal?” Aku bahkan tak yakin dengan ucapanku. Pertanyaan Arjun pun spontan aku jawab dengan pertanyaan lain. Jelas aku penasaran, apakah yang barusan itu cuma mimpi atau Mak sudah benar-benar pergi.

“Tidak, Bu. Mbah Rah masih hidup. Nanti habis magrib kan ada khataman Alquran di rumah Mbah Rah.”

Ingatan-ingatan bergulir di kepalaku. Aku kembali ingat, Mak tak membaik setelah sebulan lebih di rumah sakit. Ia kukuh minta dibawa pulang. Keluarga pun menuruti. Mak mengaku kalah dari kanker yang ia idap. Dan, ia ingin saat pengujung hidup ditemani keluarga.

Aku juga kembali ingat, sudah tiga hari aku absen menemani Mak. Padahal, lima hari lebih sejak Mak pulang aku selalu bermalam di rumah Mak. Selalu tidur di sisi Mak. Pada hari keenam, aku jatuh sakit.

Bahkan saat Mak meminta semua anggota keluarga untuk mengadakan khataman, aku belum mampu ikut. Jika aku tak salah ingat, ini hari kedua khataman dilaksanakan.

“Ibu mau ikut ke sana malam ini?” tanya Arjun halus.

Tentu aku ingin ikut. Aku sangat ingin menemani Mak. Sebelum sakit, aku paling sering menemani Mak dibanding tujuh saudaraku. Mana mungkin aku tak ikut acara khataman yang Mak minta secara langsung.

Tapi….

Pikiranku mengingat kembali mimpi barusan. Apakah benar itu cuma mimpi? Semua terasa nyata. Bagaimana jika itu adalah tanda, Mak benar-benar mengajakku pergi? Aku takut sakitku sekarang akan membuatku ikut bersama Mak. Aku belum siap mati. Badanku bergidik ngeri.

“Ibu masih sakit, Jun. Biar istirahat di rumah saja,” ucap Mas Lam.

Lamunanku buyar. Mereka pun berangkat. Meninggalkan aku sendirian di rumah. Sepi. Aku hanya berbaring. Menatap langit-langit. Menghabiskan berjam-jam di antara sakit kepala dan kebingungan. Beberapa kali aku tertidur, tetapi selalu terjaga kembali. Tak bisa tenang tidurku. Seperti ada sesuatu yang menunggu di balik pintu gelap kelopak mataku. Setiap kali kesadaranku hilang, bisa kurasakan tubuhku berusaha menarik diri. Takut akan terlalu lelap dalam mimpi. Aku baru bisa tenang saat Mas Lam pulang dan menemaniku.

Akhirnya tidurku nyenyak.

Sampai entah pukul berapa, percakapan Mas Lam dan orang di seberang ponsel membangunkanku. Setelah menutup telepon, ia menatapku sendu. □

  1. Sampean dalam konteks yang lebih sopan (Sebutan kata ganti ‘kamu’ dalam konteks bahasa Jawa krama inggil). ↩
Potret Adhim Fauzil dari cetakan Karas Nomor 8
Adhim Fauzil adalah nama pena dari mahasiswa semester delapan kelahiran Pekalongan yang bernama asli Moh. Fauzil Adhim. Memutuskan menggunakan nama pena setelah tahu bahwa nama aslinya sudah lebih dahulu dikenal sebagai penulis lain. Ia menganggap masakan ibunya adalah yang terbaik. Para juri di lomba masak Kecamatan Wiradesa sepakat dengan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
Theme Mode