AREK-AREK BONEK SURABAYA SANG GARDA NEGARA

arek-arek bonek, tanpa latihan, tanpa pengalaman nekat bertempur ke medan perang berjuang demi menjaga kemerdekaan yang hendak dirampok belanda ; berandal kolonial sekutu inggris dan nica. bersenjata ala kadarnya sepatu, seragam, topi baja tak pernah punya (apalagi gaji, pangkat, dan bintang jasa) tak perlu peleton, batalion atau kompi tak butuh strategi serta konvensi tak! maka peduli setan! mallaby, jendral panglima lawan kautembak dari jarak dekat saat di jalanan pistolnya kaurampas dari genggaman mobilnya hancur berantakan disikat granat marah jembatan merah! arek-arek bonek surabaya, meski musuh menuduh kau adalah biang rusuh namun namamu tetap tercatat sebagai pahlawan teguh. arek-arek bonek, usai perundingan gagal di tunjungan tanpa aba-aba, tanpa persiapan yamato dipanjat demi menurunkan prinsenvlag merobek birunya lantas mengibarkannya kembali sebagai dwi warna (sebab lupa membawa sang saka). ploegmen, komandan netherland yang lancang menodong residen sudirman kaucekik hingga binasa, lunas napasnya lantas kausambar sepeda sebagai perisai bagi pisau serdadu lawan yang dilempar, lolos menancap di badan. arek-arek bonek surabaya, meski sukma pisah dari raga pengorbananmu sebagai kusuma negara tak kan pernah sia-sia! serupa cak madun gugur di siola menghadang tank sendirian agar pasukannya terhindar dari amukan di gentengkali menyusun barisan. arek-arek bonek, 100 ribu pejuang, miskin senjata sebagian besar rakyat jelata ; tukang becak, pedagang, pelaut, preman sekalian kuli, petani serta santri juga para pemuda kampung dan desa bersama heiho, knil, dan peta mencegat pasukan sekutu pemenang perang dunia ; para tentara bayaran sikh dan gurkha, inggris dan eropa yang dibekali senapan mesin, dikawal kendaraan lapis baja, kapal perang, berikut pesawat udara. arek-arek bonek surabaya, meski kotamu hancur, 16 ribu pejuang gugur, 200 ribu rakyat tergusur dibombardir mortir diganyang panser dan meriam tapi aksi heroikmu telah menggetarkan lawan kebonekanmu menyadarkan dunia bahwa merdeka adalah hak paling asasi manusia suluh bagi perdamaian sesama. arek-arek bonek surabaya, sidik dan hariyono wong jawa bergandengan dengan warouw dan worang jong minahasa berangkulan dengan pemuda aceh abdullah dan jong ambon sapija. arek-arek bonek surabaya, bersama warga pemberani lainnya dirumat bung tomo, gubernur suryo, dan kiai hasyim asy’ari menjelma pandu bagi ibu pertiwi. kini, di zaman perang politik dan agama yang mengancam kemerdekaan negara menyerang kehidupan berbangsa mengacau kedamaian sesama di manakah kau berada arek-arek bonek surabaya? solo, 2 november 2018
SALAM DAMAI DARI MENARA

mengaji menara tak kan kau temui rumah bagi api yang berkayu bakar iri dengki berbara arang benci dendam berkabut asap kepentingan mengaji menara ornamen lama mengukir kaki-kakinya di badannya, relung candi menyimpan sunyi tempat jati diri merenung sendiri. piring-piring kiai te ling sing menghias di temboknya 20 berwarna biru bergambar masjid, manusia dan unta, serta pohon kurma 12 lainnya merah putih lukisan bunga mengaji menara pilar-pilar menggambar kamar di puncaknya. serupa meru pada para pura, 2 tajug bertumpuk, bertahta di atasnya isyarat bagi kalimat syahadat yang dilantunkan muazin menjelang shalat. digenapi 4 tiang mereka menyerukan rukun iman kepada sang pencipta, malaikat, kitab suci, nabi juga hari penghabisan, dan kepastian tuhan bedug digantung melintang dari utara ke selatan seperti balai kul kul di pulau dewata yang dilengkapi kentongan mengaji menara dua gapura bentar membabar keutamaan yang di utara mengantar jamaah ke peshalatan yang di selatan ziarah ke makam kanjeng sunan. di serambi bakal kau temui si lawang kembar paduraksa menengadah kubah raksasa dengan 2 pengawal berarsitektur mughal selebihnya, para atap membentang suka cita ada yang bergaya limasan, datar dan lengkungan atau mirip pelana mengaji menara bakal kau jumpa 5 pintu di kanan, 5 di kiri sebagai panutan hati kepada rukun islam yang hakiki syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji. 4 saka andalan tegak tanpa bubungan meruncing dari empat penjuru mata angin menjelma pajupat yang dahsyat lima pancer menali papat kiblat aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah mengaji menara, mengaji menara jendela jalusi menanti juga pintu ganda berdaun jati bergaya eropa serta india. mengaji menara, mengaji menara batu-bata tanpa perekat digosok-gosok hingga melekat berhias sulur-suluran, putih kecoklatan berbahan batu alam. mengaji menara, mengaji menara mimbar beranak tangga 3 tingkatan manunggal dengan dinding bangunan sebagaimana masjid-masjid di jawa yang dibangun para sunan mengaji menara, mengaji menara 8 pancuran dari padasan kebo gumarang merupa asta sang hika marga sebagai jalan kebenaran mengaji menara kau bakal berjumpa rumah bhinneka tempat berteduh jawa, cina, hindu, dan budha juga india dan hindia belanda sebab di menara, agama dan keyakinan berwajah kearifan bermata kasih sayang dan berbibir cinta hingga menjelma senyum bagi semesta menyeru salam salam damai dari menara! solo, 10 maret 2020

Sosiawan Leak Lahir di Solo tahun 1967. Menyelesaikan studi di Fisip Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta. Menulis puisi, esai, dan naskah lakon, selain aktif sebagai aktor dan sutradara teater. Diundang membaca puisi di Bremen, Pasau, Hamburg, Berlin, Seoul, Ansan City, serta di berbagai kota di Indonesia, selain tampil sebagai narasumber di sejumlah festival sastra/seni budaya di dalam dan luar negeri. Buku-buku kumpulan puisinya mendapat penghargaan sebagai buku terbaik dari Perpusakaan Nasional dan dari Yayasan Hari Puisi Indonesia. Dinobatkan sebagai Tokoh Sastra Indonesia 2017 oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Sejak tahun 2013 menjadi koordinator nasional Gerakan Puisi Menolak Korupsi, yang menerbitan buku kumpulan puisi antikorupsi karya penyair se-Indonesia serta menggelar roadshow di berbagai kota. Dua buku terbarunya terbit sekaligus tahun ini, yakni "Rumah-Mu Tumbuh di Hati Kami" dan "Tragedi Wirabangsa".