Jam Tua
Setiap detiknya mengalirkan padamu detak napas yang tak sempat kau pikirkan tanpa lelah diantarnya padamu angka-angka yang beputar pelan membuka nasib baru menggugurkan masa silammu yang kacau memutihkan warna janggut cambangmu sampai kau lupa bahwa kesedihan terakhirmu telah dihapusnya pada istirahat siang tadi Kau tak pernah memikirkan barang sejenak kapan jam tua itu tersalib di dinding ruangan padahal tiap hari dikuburnya letih kelopak matamu melalui serentetan denting bunyi paling purba supaya kau sanggup bertahan di ruang alienasi merampungkan tugas yang bukan mimpi masa kecilmu “Kapan waktunya pulang” gerutumu kesal jam tua yang detiknya berdetak padamu tersenyum mendengar nada jengkelmu dengan sabar diputarnya jarum pendek panjang agar engkau segera berkemas dari ruangan pengap dan membaringkan tubuh pada malam yang tawar “Saatnya pulang” gumamu riang jam tua yang detiknya berdetak padamu kian meletih kian tersisih di ujung dinding ia berulang kali kehilangan orang-orang sepertimu yang memasrahkan nasibnya di ruang pengap ini mungkin sebentar lagi ia tak mendengar gerutumu (Surakarta, 2023)

Thomas Elisa, lahir 21 September 1996 di kota Surakarta. Ia tinggal di Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Surakarta. Pendidikan Strata-1-nya diselesaikan pada Juni 2018 di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, UNS. Karya terbarunya berupa novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017). Karya terbaru penulis dimuat dalam media Poros Pemalang (2021), Tegas.Id (2021) Opini.Id (2021), Marewai (2021), Suku Sastra (2021), Ruang Jaga (2021), Rembukan.com (2021), Radar Pekalongan (2022), Harian Bhirawa,(2022), Jawa Pos Radar Madiun (2022), Sinar Indonesia Baru (2022), Solopos (2022), Media Indonesia (2022), Jurnal Sastramedia (2022), dan Magrib.Id (2022) . Kini, ia mengajar di SMK Mikael Solo. Selain itu, pembaca dapat berkorespondensi melalui posel: thomithomas78@gmail.com; Instagram: Thomas Elisa P.